Senin, 04 Januari 2016

“Mengobati” Indonesia untuk Indonesia Lebih Maju

Adjie masaid
Awan hitam menutupi dunia hiburan Indonesia. Seluruh media masa geger memuat halaman utama kematian aktor Adjie Masaid. Dijemput maut selepas bermain futsal, bagi kebanyakan orang, adalah adalah hal yang kontradiktif. Karena olahraga disandingkan dengan gaya hidup sehat, jauh dari penyakit, dan berumur panjang. Juah dari logika publik, jika seorang pegiat olahraga menemui ajal di lapangan hijau. Akan tetapi, Adjie masaid bukanlah kali pertama artis yang mendadak mati usai berolahraga, benyamin sueb, basuki dan artis-artis lainnya lebih dahulu meninggal seusai bermain bola. Tentu, beragam cerita pernah didapati disekitar kita seusai aktivitas kemudian meninggal, atau meninggal tanpa aktivitas dan tanpa gejala apapun. Tentu saja kesimpulan ini bukanlah ingin menyalahi Takdir yang sudah ditetapkan oleh tuhan, akan tetapi inilah gambaran sesungguhnya bahwa fenomena di atas adalah gambaran dari sudden death. Kematian tiba-tiba karena penyakit kardiovaskuler yang tidak terdeteksi. Fenomena seperti ni merupakan salah satu potret bangsa ini saat ini. Indonesia sedang di bom oleh negara adidaya melalui sedentary life style. Hidup modern ala instan. Atau fenomena dimana saat ini banyak pria yang gemar nge-gym tapi tetap sering sakit, mudah lelah, dan tidak bugar. Hidup modern ala instan.
Malnutrisi
“Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”
Lagu yang indah, indonesia yang makmur dan subur. Tapi faktanya, kelaparan masih  melanda Indonesia. Kemiskinan adalah cerminan masyarakat yang belum tertuntaskan. Indonesia sedang mengalami bencana malnutrisi. Seperti hal yang mustahil. Bagaimana bisa negara agraris tetapi harus memasok kebutuhan dari negara lain. Ibarat orang asing di negeri sendiri. Seperti tamu yang masuk ke rumah sendiri dan hanya boleh masuk tanpa harus ikut campur mengutak-atik segala urusan yang ada di dalam rumah. Seperti itulah gambaran negeri ini. Banyak aset, banyak kekayaan melimpah, akan tetapi aset itu milik orang asing, kekayaan itu kini mengalir ke negeri sebelah. Salah satu dampaknya adalah negeri yang tropis subur makmur ini, masih harus mengimpor bahan pokok sehari-hari. Dan fenomena yang terjadi adalah double burn malnutrition. Perlu diketahui bahwa malnutrisi bukanlah hanya kekurangan gizi saja yang di asosiasikan dengan kemiskinan, akan tetapi nutrisi yang berlebihan dan obesitas. Dikatakan double burn karena fenomena ini tidak hanya mengena pada masyarakat kelas bawah saja, akan tetapi juga kelas atas. Atas bawah kena. semua menjadi korban. Apa yang digelisahkan dari malnutrsi? Bagi si miskin, mahalnya barang pokok sehari-hari, karena ketidakmampuan dalam negeri memenuhi pangan, membuat gizi tidak tercukupi. Makan ala kadarnya, yang penting kenyang, atau lebih sering tidak makan. Hal ini sangat berbahaya bagi ibu hamil dan bayi. Karena 1000 hari sejak diciptakan, dimulai sejak masa kandungan hingga pasca dilahirkan, adalah masa yang sangat penting untuk pertumbuhan dan pemenuhan nutrisi. Inilah yang disebut masa pertumbuhan emas. Guru besar kedokteran UGM, Hadi dkk meneliti bahwa orang-orang yang nutrisinya tidak tercukupi pada 1000 hari pertama kehidupan, maka akan menimbulkan pertumbuhan yang lambat, baik dari segi fisik, kognitif, mengelola emosi dan sosial serta mental dan fungsi-fungsi eksekutif. Indonesia saat ini menjadi negara pemyumbang orang pendek terbesar kelima seluruh dunia. Pertumbuhan yang lambat karena kekurangan gizi dipegang indonesia sebesar 37%. Artinya jika ada 3 orang berjalan dengan usia yang sama, maka satu diantaranya bertubuh kecil. Pertumbuhan kognitif yang lambat adalah bomerang. Bagaimana mungkin bangsa ini maju, jika sumber daya yang ada tidak mampu berpikir cerdas. Selain itu dampak yang ditimbulkan adalah keterbelakangan mental. Kesehatan mental adalah cerminan jiwa yang sehat, berkhalak baik dan berprilaku santun. Hadi dkk dalam penelitiannya tahun 2013 sungguh mencengangkan bahwa orang-orang yang kecilnya tidak mendapat asupan nutrisi yang  cukup, maka setelah tua dan dewasa akan mudah terkena penyakit-penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung, diabetes dan stroke.
Tetapi sayangnya, bagaimana memikirkan nutrisi jika untuk menghidupkan tungku-tungku rumah saja mereka tidak mampu. Jika si balita selalu diberi makan mie instan setiap hari. Untuk menjaga kesehatan, olahraga sangat diwajibkan. Tetapi, bagaimana orang mau bermain bola, jika lahan saja sudah tidak ada dan sekarang harus bayar pula setiap jamnya. Bagaimana orang bisa berolahraga jika si pejalan kaki selalu kalah dengan motor. Jika trotoar kini menjadi lapak para pedagang bahkan dijadikan lahan parkir dan jalan untuk si motor. Bagaimana bisa bersepeda jika ulah si motor selalu egois selip sana selip sini dan tidak peduli si pejalan hendak menyebrang. Untuk bernapas saja kami masih harus diracuni asap rokok dimanapun, angkot, bus kota bahkan mushola dan tempat-tempat umum lainnya. Saat ini banyak masyarakat kita yang berperilaku konsumif. Mengabaikan kesehatan demi kenikmatan sesaat. Tidak bisa disalahkan jika setiap waktu masyarakat kita dibanjiri iklan-iklan akan nikmatnya segala hal yang serba instan. Disaat makanan siap saji tidak bernutrisi dan hanya mendatangkan rugi membanjiri jalan-jalan kota dan pusat perbelanjaan. Si rokok mulai diperhitungkan kehadirannya meskipun belum ada regulasi untuk si “siap saji’. Padahal makanan ini adalah silent killer penyebab meningkatnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit degeneratif.
Penyakit-peyakit degeneratif tersebut tidak hanya menyerang kalangan tua saja, tapi kini usia muda bahkan segala jenis usia bisa terkena. Kategori penyakit yang sangat mahal, sangt sulit untuk bisa kembali normal dan harus mengidap hingga seumur hidup. Bisa dibayangkan, berapa angka yang harus dikeluarkan negara untuk membiayai rakyatnya dengan penyakit-penyakit mahal ini. Bagaimana kualitas bangsa jika rakyatnya yang banyak ini justru tidak mampu berproduksi dan bekerja. Akan banyak keluarga yang terlantar dan anak-anak muda yang tidak bisa berkarya. Maka, masalah pangan bukanlah masalah hari ini saja karena tidak mampu terpenuhinya kebutuhan. Akan tetapi, masalah jangka panjang bahkan kemajuan bangsa.
Sedentary Life
Bagi kaum menengah ke atas, kesibukan membuat dunia ingin serba cepat. Segala fasilitas dipenuhi untuk memanjakan  hajat hidup setiap manusia. Bahkan alasan kesibukan, membuat gaya hidup instan menjadi sebuah trend. Maraknya makanan berkolesterol tinggi, makanan siap saji semakin disukai. Harga yang mahal tidak khawatir demi sebuah harga diri. Tidak sedikit juga yang murah. Bandingkan menjamurnya makanan siap saji yang ada di pinggir jalan. Banyak zat-zat sampah yang tidak dibutuhkan tubuh dan bahkan berbahaya bagi tubuh dinikmati oleh pecinta gaya hidup instan. lemak transfat, natrium yang tinggi, pemanis buatan, menyebabkan melonjaknya angka penderita diabetes mellitus, kardiovaskuler dan stroke. inilah dampak panjang yang dihadapi dari krisisnya pangan.
Selain pangan, air bersih adalah faktor penting dalam menjamin keberlangsungan kehidupan manusia. Sayangnya, banyak mata air yang kita miliki, akan tetapi sejatinya dikuasai oleh pihak asing. Mahalnya harga air bersih, yakni setengah dari harga bensin membuat banyak masyarakat mengkonsumsi air tidak layak minum. Air yang sudah tercemar limbah pabrik, limbah rumah tangga, dan sampah. padahal air adalah sumber utama pencemaran penyakit infeksi.
Mahalnya ongkos sakit
Banyak orang mengabaikan kesehatan. Masalah kesehatan ibarat masalah belakangan. Bahkan orang seringkali kalap ketika sehat, semua makanan yang enak di lidah masuk ke dalam mulut tapi enggan untuk olahraga. Masalah yang dianggap cuek oleh sebagian orang, tetapi saat sakitnya datang barulah mulai terasa penderitaanya. Mulai menyadari adanya masalah yang datang. Ibarat bisul di pantat yang menunggu waktu pecah, tidak terlihat tapi susah untuk duduk, terasa hangat namun perih bahkan tidak enak untuk tidur. Disaat sakit, masyarakat kita harus mengeluarkan uang sendiri untuk membayar pengobatan. Sistem ini disebut pembayaran “out of pocket”. Dari laporan World Health Organization tahun 2006 70% masyarakat Indonesia masih bergantung pada tradisi sistem Out of Pocket, dan hanya 8,4% yang dapat mengikuti sistem pembayaran prabayar/asuransi (WHO: 2009).
Tidak ada yang salah dengan sistem ini memang, selama si sakit sanggup membayar untuk biayanya, dan dokter mau jujur juga berkompeten untuk memberikan pelayanan sesuai kebutuhan pasien. Namun kenyataannya tidak selalu seperti itu, sering sekali pihak pasien, yang dalam hal ini adalah pihak yang kurang tahu tentang permasalahannya sendiri, tidak tahu sakitnya apa, bagaimana pengobatannya, butuh biaya berapa dan sebagainya. Sehingga pengeluaran menjadi membengak. Beda dokter beda diagnosa, beda pula obatnya. Lempar sana lempar sini menjadikan pasien sebagai pihak yang dirugikan.  Ánehnya lagi, dari seluruh uang yang dia  keluarkan, seluruh rumah sakit yang ia kunjungi, ia tidak pernah tahu apa diagnosa yang ditegakkan untuknya. Terhitung 2014, ada biaya gratis bagi si miskin melalui BPJS. Sudah menjadi tradisi dalam sistem kesehatan kita banyak warga yang menjelma dirinya miskin saat membutuhkan pelayanan kesehatan, padahal sehari-harinya mereka memiliki barang mewah di rumah bahkan ada yang mampu memiliki motor bahkan mobil tetapi mengaku dirinya miskin saat berobat ke RS.
Tidak sedikit masyarakat kita awalnya cukup mampu untuk menghidupi diri dan keluarganya dari pekerjaan serabutan, akhirnya jatuh sakit dan menjadi miskin karena seluruh hartanya habis untuk biaya berobat. Sakitnya kemudian tidak kunjung sembuh, malah bertambah parah, utang disana sini, tidak bisa bekerja, dan terus sengsara. Jika si miskin sakit itu artinya semua keluarga sakit. Satu keluarga menunggu pasien sakit di rumah sakit. Keluarga pun ikutan ‘sakit’ ekonominya dan kehidupannya. Sudah jatuh tetimpa tangga, tangganya pun rusak padahal milik tetangga. Dan harus mengganti rugi pula.
Perilaku ini sudah menjadi tradisi. Bagaimana jika sistem pra bayar kesehatan dalam hal ini BPJS yang menggratiskan kesehatan saat sakit mulai diberlakukan secara total. Bukan hal yang tidak mungkin masyarakat kita menganggap remeh perkara sakit dan terlena dengan kesehatan jika usaha-usaha preventif dan kesadaran akan kesehatan tidak digalakkan oleh pemerintah.
Dokter malpraktik
Masyarakat dengan mudah sekali menyalahkan dokter atau pihak rumah sakit jika mereka tidka puas dengan jasanya. Tidak bisa disalahkan dan dibenarkan sepenuhnya. Tapi tidak ingatkah bahwa kita adalah manusia dan jumlah sarana prsarana memiliki keterbatasan. Di inggris, setiap pasien berhak mendapat pelayanan dokter minimal 15 menit. Saat ini dokter puskesmas bahkan melakukan pemeriksaan hanya sekitar lima menit atau kurang. Apakah ini kesalahan dokter? Tidak juga karena pasien lain sudah mengantre bahkan membludak. Sangat jauh dari kata ideal. Ditambah lagi dengan sistem BPJS dimana jika ada orang sakit wajib berkunjung ke puskesmas sebagai pelayanan primer. Tentu menambah membludaknya angka kunjungan pasien ke puskesmas. Sarana boleh ditingkatkan tetapi sumber daya manusianya tetap segitu. Tidak dipungkiri masih butuh banyak dokter yang merata persebarannya di negeri ini. Tapi kita lihat betapa masyarakat saat ini sudah sangat hati-hati dengan dokter. Salah sedikit menuntut. Setiap tahun fakultas kedokteran di Indoensia melahirkan ribuan dokter-dokter baru. Akan tetapi, 35% dari mahasiswa kedokteran tersebut belum lulus mengkuti ujian kompetensi dokter Indonesia. Mengapa banyak dokter yang tidak kompeten?. Karena ternyata akreditasi untuk kedokteran hanya ada 32 dari 72 fakultas kedokteran yang terakreditasi di atas standar. Masih ada 40 FK yang terkareditasi C (di bawah standar) dan ironisnya ada 8 FK yang belum terakreditasi (BAN-PT, Kemdiknas). Laju pertumbuhan penduduk terus meningkat, tetapi jumlah dokter cenderung tetap setiap tahunnya. Jika pemerintah mau meningkatkan kesehtaan Indonesia. Ini adalah poin penting dimana pendidikan dokter juga sangat perlu dipikirkan untuk melahirkan lulusan dokter yang profesional.
mental sakit orang Indonesia
 Perilaku konsumtif dan merasa miskin kini menjadi watak masyarakat kita. Berapa banyak masyarkat kita yang sehari-harinya bergelimang harta tetapi mengaku miskin seketika saat sakit. Padahal masih banyak masyarakat yang benar-benar miskin tetapi belum mendapat bantuan. Masyarakat tidak menyadari bahwa sebenarnya kesehatan kini dalam hidup serba keterbatasan, semua dibatasi. Ingin sedikit berkualitas tetapi pemerintah tidak menanggung. Sistem jaminan memang membuat biaya kesehatan murah tetapi jadi murahan pada akhirnya jika tidak ada persiapan matang dan sumber daya yang belum siap. Mudahnya akses untuk mendapatkan kesehatan ternyata tidak sejalan dengan naluri seorang dokter. Betapa para tenaga medis ini ternyata harus ekstra berhemat untuk melayani pasien. harga satu penyakit sudah dipatok, bagaimana jika pasien mengalami keluhan lain dan membutuhkan obat yang berbeda jika biaya dari pemerintah ternyata tidak mencukupi. Aturan yang berlaku, pasien tidak boleh melakukan kunjungan dua kali dalam sehari kepada dokter spesialis. Bagaimana dengan pasien yang memiliki komplikasi penyakit dan membutuhkan konsultasi spesialis lain. Butuh waktu dua hari untuk berkonsultasi. Tentu memakan biaya, waktu dan tenaga yang dua kali lipat bagi sang pasien yang tergolek sakit. Masih banyak obat yang tidak ditanggung atau peralatan-peralatan untuk bedah yang disediakan hanya kualitas pas-pasan.  Karena dana yang dicakup tidak memenuhi sesuai kaidah kedokteran pada umumnya. Kejadian nyata pasien pasca operasi RS. Dr. Soetomo 2014, pasien harus dilakukan operasi, tetapi biaya dari pemerintah sangat pas-pasan. Alhasil sang dokter harus berhemat benang jahit agar tidak melebihi biaya yang seharusnya. Pasca operasi pasien harus menanggung rasa sakit karena obat analgesik atau obat penghilang rasa nyeri saja tidak dijamin oleh pemerintah saat itu. Belum lagi administrasi yang rumit. Pasien yang harus segera dioperasi harus menunggu adminitrasi online yang terkadang servernya lambat. Apakah ini tanggung jawab dokter untuk menunggu adminitrasi. Dan jika terlambat penanganan apakah ini juga salah dokter. Tetapi pasien hanya bisa menuntut dokter. Terlebih di kabinet yang akan datang akan memberlakukan pidana bagi pihak yang menolak pasien. saya sangat setuju. Pasal 32 dan Pasal 190 UU Kesehatan mengatur, RS atau tenaga kesehatan yang menolak melayani pasien dipidana penjara maksimal dua tahun dan denda paling banyak Rp 200 juta. Jika penolakan itu menyebabkan kematian pasien, maka RS atau tenaga kesehatan dipidana penjara maksimal 10 tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar. Akan tetapi, tidak semua rumah sakit ikut serta dalam program pemerintah. Berapa banyak kerugian yang harus rumah sakit tanggung karena dana dari pemerintah tidak menutupi? Bahkan ada beberapa rumah sakit yang biaya operasionalnya belum dibayar oleh pemeirntah. Karena Pasien tidak boleh ditolak. Tetapi apa dikata jika jumlah kasur sudah tidak tesedia bahkan lorong-lorong penuh dengan pasien dan keluarganya.
Belum lagi beban perawat dan dokter yang harus ekstra tenaga melyananinya. Jumlah pasien membludak, tetapi tenaga medis tetap jumlahnya. Semua ingin segera dilayani. Tanggung jawabnya semakin bertambah tapi dokter masih saja terus disalahkan atau dianggap sebelah mata. Jika pasien tidak mendapatkan pelayanan yang diinginkan. Siapa yang disalahakan? Dokter dan pihak rumah sakit. Sebenarnya dunia kesehatan kita masih menganut ketidakadilan. Adanya sistem kelas atau membedakan qualitas pelayanan berdasarkan kesanggupan untuk membayar yang masih diberlakukan di setiap rumah sakit sampai saat ini. Sesunggguhnya ini sangat bertentangan dengan hak asasi manusia karena Seharusnya setiap orang yang sakit mendapat layanan yang sama, tidak dibedakan. Tetapi nyatanya da pembagian kelas-kelas dalam peraturannya. Si kaya bisa mendapatkan pelayanan kelas mewah dengan  tempat tidur yang tenang, bersih, perawat yang siaga karena punya banyak uang dan si miskin dapet seadanya.
Saat ini pemerintah baru mengalokasikan anggaran kesehatan sebesar tiga persen (Rp 46,459 triliun) dari total anggaran belanja pemerintah (Rp 1.249,943 triliun). Dan ternyata anggaran ini kalah dengan negara-negara berkategori penghasilan rendah di Afrika, seperti Rwanda, Tanzania, dan Liberia, yang berani mengalokasikan dana untuk sektor kesehatan hingga 15% dari APBN-nya. WHO sendiri mematok alokasi anggaran kesehatan setiap negara minimal 15% dari total APBN.  UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan sudah tegas mengamanatkan bahwa minimal alokasi anggaran kesehatan 5% dari APBN (WHO, 2010). Inilah salah satu upaya janji kabinet jokowi mendatang dengan meningkatkan anggaran kesehatan menjadi lima persen sehingga akan membutuhkan penambahan anggaran sebanyak Rp 40 triliun. Kalau sudah begini, siapa yang salah? Dalam kontek ini tidak ada yang salah, karena sistem ini kita sendiri yang membuatnya. Yang salah adalah ketika kita tidak mau merubahnya kearah yang lebih baik.
Masyarakat sadar kesehatan
Permasalahan demografi yang mungkin akan melanda seperti bonus demografi pada Indonesia tentunya akan muncul, terutama masalah kesehatan yang telah disebutkan. Penyakit degenerative tentunya akan banyak muncul bahkan melanda kaum muda. Untuk itu di dunia yang serba gadget ini, olahraga dan gaya hidup sehat harus menjadi trend anak muda. Anak muda yang hiudpnya suka dipamerkan, maka pamerkanlah gaya hidup sehat. Lingkungan kita harus turut mendukung gaya hidup sehat, misal pemilihan duta sehat anak muda, lomba sehat, dan terutama untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat, maka pembuatan iklan-iklan yang mengajak pada kesehatan tubuh dan kesehatan lingkungan harus lebih digalakkan. Pemerintah dapat turun serta untuk menggulangi masalah kesehatan dengan e-government, edukasi dengan online, serta memanfaatkan kreativitas anak muda dalam membuat aplikasi edukatif seperti meme comic, dan sebagainya. Iklan rumah sehat, permainan sehat, lingkungan sehat juga bisa jadi merupakan kampanye efektif dalam mengantisipasi perubahan pola kesehatan masyarakat akibat perubahan struktur demografi Indonesia.
Pemerintah pro kesehatan
Peran pemerintah adalah tokoh utama dalam penerapan kebijakan tentang kesehatan. Pemerintah dalam posisi legal berwenang dalam menentukan kebijakan mengenai kesehatan terutama kesehatan lingkungan. Kampanye mengenai gaya hidup tentunya akan lebih efektif dan memiliki legal khusu bila hala ini didukung sepenuhnya oleh pemerintah terutama dalam fungsi penerapan standar kesehatan dan fungsi anggaran. Pembatasan barang impor yang mungkin akan merusak kesehatan juga dapat terkondisikan dengan baik apabila pemerintah secara tegas mentukan batasan dan standar, serta audit barang yang masuk untuk dikonsumsi penduduk Indonesia.
Indonesia baru saja melakukan penggantian pemain-pemain senayan untuk menempati singgasana. Hanya menunggu pembuktian apakah mereka sosok negarawan seperti yang diucapkan atau politisi yang berlindung di balik kosmetik pencitraan. Indonesia hari ini mengalami krisis negarawan diantara berkilaunya politisi instan. Pemimpin politisi menyelesaikan masalah bangsa ini berorientasi jangka pendek, mempertimbangkan keuntungan untuk para pemilik modal dan kelompoknya, khususnya partai ketimbang masyarakat. Plato pernah mengingatkan kita, masalah suatu negara tidak akan pernah berdamai dengan masyarakatnya hingga kekuasaan politik ada pada negarawan sejati. Meskipun kita masih memiliki sosok seorang tokoh yang memiliki jiwa negarawan, namun sistem politik hari ini belum berpihak sepenuhnya dengan mereka. Sampai kapan pun republik  ini tetap akan terperangkap dalam lingkaran masalah yang tiada berujung, sepanjang partai politik di negara ini masih gagal meng­hasilkan negarawan sejati untuk memimpin. Perbedaan mendasar antara negarawan dengan politisi adalah jika negarawan hidup untuk negara, maka politisi negara untuk hidupnya. Janji sudah terlanjur diucapkan. Entah dengan atau tanpa perhitungan. Jangan lagi rakyat yang harus menanggung penderitaan. Lantaran janji yang akan diabaikan. Jika benar begitu apa bedanya kepemimpinan dengan pengkhianatan?
 Para wakil rakyat ini bak supir bus kota yang kita pilih untuk membawa kita ke arah yang kita tuju. Setiap penumpang pasti ingin mencapai tujuan yang diinginkan dengan kondisi selamat dan ongkos yang semestinya sehingga menjadi hak kita untuk menegur sang supir supaya memilih jalan yang lebih bijak.

Kesehatan melalui Kemandirian pangan, air, dan lingkungan adalah hal pokok yang harus diselesaikan untuk kebutuhan mendatang. Jika kemandirian pangan, air, dan lingkungan dapat terwujud, maka bukan hanya menyelesaikan permasalahan hari ini akan tetapi juga membangun kekuatan dan kemajuan bangsa di masa yang akan datang.

_lomba Essai Bonus Demografi_

Semua Bisa Jadi Pahlawan -Pahlawan Negeri, Pahlawan Bumi

Pengertian pahlawan dalam arti sempit adalah siapa saja yang menjadi pembela kepentingan seseorang itulah dia, terlepas bentuk kepentingan apa saja, tidak perlu lihat halal haram lagi (Muadz, 2014). Bagi seorang yang sedang sakau maka pahlawan bagi mereka adalah para pemasok dan pengedar narkoba. Bagi seorang pemabuk, maka boss yang mentraktir minuman itulah yang jadi pahlawan. Bagi orang-orang miskin maka orang semodel Robin Hood itu juga bisa manjadi pahlawan. Bagi para mucikari/germo, juga pengusaha diskotik, maka para pem-backing  yang biasanya terdiri dari aparat itu sebagai pahlawan.  Seorang pemuda yang menampung uneg-uneg seorang gadis ketika terjadi masalah keluarga, sehingga sang gadis bertambah dendam terhadap orang tuanya dan semakin sejuk dengan sang pemuda, itu bisa dianggap pahlawan bagi si gadis (lihat status-status di BBM.
Ukuran berjasa, membantu dan menolong menurut kepentingan perorangan, kelompok, suku, sampai pada bangsa dan negara, bisa dipastikan akan menemukan hasil yang relatif. Sehingga harus ada standar yang universal. Sementara standar universal itu biasanya dikaitkan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Lagi-lagi jika pendangan kemanusiaan itu menurut pribadi, kelompok dan golongan pasti akan berbeda lagi. Sehingga tidak akan pernah menemukan kebenaran yang hakiki dalam memandang nilai kemanusiaan.
 “Pahlawan” menurut Bahasa adalah sebuah kata benda. Secara etimologi kata “pahlawan” berasal dari bahasa Sanskerta “phala”, yang bermakna hasil atau buah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, pejuang yang gagah berani. Pahlawan adalah seseorang yang berpahala yang perbuatannya berhasil bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya memiliki pengaruh terhadap tingkah laku orang lain, karena dinilai mulia dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat bangsa atau umat manusia.
Berdasarkan pengertian tersebut, semua orang dapat menjadi pahlawan asalkan dia berguna bagi manusia lainnya. Sebagimana agama yang saya yakini yaitu Islam, Islam mengajarkan kita untuk bermanfaat bagi sesama. Bahkan dalam firmannya disebutkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Dalam beberpa kisah inspiratif, bahkan orang cacata sekalipun dapat bermanfaat bagi yang lainnya. Bob Willen, seorang yang cacat tidak memiliki kaki namun mampu menyelesaikan lari marathon demi untuk memberikan charity bagi yang lainnya. Keinginan  Bob Willen untuk menolong orang lain melalui jalur militer harus kandas karena menginjak ranjau pada saat bertugas di koflik Vietnam. Hal tersebut berimbas pada kehitangan kedua kaki hingga ke pangkal paha. Hal tersebut tidak menjadikan Bob patah semangat. Ia justru semakin besar hatinya. Keinginannya untuk membantu orang lain tidak pernah surut.      
Orang cacat saja punya naluri kepahlawanan. Bagaimana dengan kita? Harusnya sebagai makhluk sosial naluri kepahlawanan itu ada. Pengusaha yang paling kapitalis sekalipun masih memeberikan charity untuk lembaga sosial. Terlepas dari tujuan pakah untuk mengurangi pajak atau karena memang berkeinginan untuk kemanusiaan.
Masing- masing orang meiliki kemampuan untuk bermanfaat bagi yang lainnya. Terlepas dari apapun pekerjaan atau perannya. Serorang petani dapat menjadi pahklawan dengan pasokan pangan dan sayuran yang dihasilkan. Seorang intelektual atau akademisi seharusnya mampu memberikan kontribusi bagi lingkungan sekitarnya dengan ilmu yang dimiliki. Seorang musisi dapat menjadi pahlawan dengan mengibur orang-orang sengan lagu dan music yang diciptakan atau dilantunkan.             
Pahlawan bukan untuk dikagumi, tapi diteladani (Matta, 2004). Pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah hanya dapat diselesaikan oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Tantangan-tantangan besar

 
dalam sejarah hanya dapat dijawab oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Itulah sebabnya kita menyebut para pahlawan itu orang-orang besar. Itu pula sebabnya mengapa kita dengan sukarela menyimpan dan memelihara rasa kagum kepada para pahlawan. Manusia berhutang budi kepada para pahlawan mereka. Dan kekaguman adalah sebagian dari cara mereka membalas utang budi.
Mungkin,  karena  itu  pula  para  pahlawan  selalu muncul di saat-saat yang sulit, atau sengaja dilahirkan di tengah situasi yang sulit. Mereka datang untuk mem- bawa beban yang tak dipikul oleh manusia manusia di zamannya. Mereka bukanlah kiriman gratis dari langit. Akan tetapi, sejarah kepahlawanan mulai dicatat ketika naluri kepahlawanan mereka merespon tantangan- tantangan kehidupan yang berat. Ada tantangan dan ada jawaban. Dan hasil dari respon itu adalah lahirnya pekerjaan-pekerjaan besar.
 Isu yang paling in saat ini adalah isu lingkungan. Semakin lama bumi ini semakin padat penduduk. Tantangan bonus demografi Indonesia, baby booming, krisis pangan, krisis tempat tinggal, krisis sumber daya dan sumber daya air menjadi masalah yang tak dapat dipisahkan dari pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat. Pakar-pakar lingkungan semakin dibutuhkan.  Tidak hanya akademisi yang mampu berpikir dan membuat planning, tapi juga praktisi yang mempu mengusahakan berkelanjutan lingkungan untuk anak cucu kita nanti. Meminjam perkataan Buya Hamka bahwa kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, tapi meminjam dari anak cucu kita.
Pahlawan lingkungan semakin dibutuhkan. Bagaimana mengatasi perubahan iklim yang kini sudah mulai terjadi dan mengatasi berbagai krisi lainnya di dalammya. Kita tidak dapat memungkiri bahwa kita tinggal di bumi. Maka kita tidak punya alasan untuk tidak peduli pada bumi kita. Dunia internasioanal sudah mulai resah dengan keadaan bumi ini. Untuk itu ditetapkanlah Sustainable development Goals yang ditetapkan pada konferensi Rio.
Salah satu hasil utama dari Rio + 20 Konferensi adalah perjanjian oleh negara-negara anggota untuk memulai proses untuk mengembangkan satu set Development Goals Berkelanjutan (SDGs), yang akan membangun di atas Millenium Development Goals dan menyatu dengan agenda pembangunan pasca 2015. Pada konferensi ini ditetapkan bahwa "Proses inklusif dan transparan antar pemerintah terbuka untuk semua pemangku kepentingan, dengan maksud untuk mengembangkan tujuan pembangunan berkelanjutan global yang akan disepakati oleh Majelis Umum".
Adapun Tujuan dari SDGs antara lain,
Tujuan 1 Menuntaskan kemiskinan dalam segala bentuknya di mana-mana
Tujuan 2 Menuntaskan masalah kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan peningkatan gizi, dan mempromosikan pertanian berkelanjutan
Tujuan 3 Memastikan kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan untuk semua pada segala usia
Tujuan 4. Pastikan kualitas pendidikan inklusif dan adil dan mempromosikan kesempatan belajar seumur hidup untuk semua
Tujuan 5 Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan

Tujuan 6 Memastikan ketersediaan dan pengelolaan yang berkelanjutan dari air dan sanitasi untuk semua
Tujuan 7 Memastikan akses ke energi yang terjangkau, dapat diandalkan, berkelanjutan, dan modern untuk semua
Tujuan 8 Promosikan berkelanjutan, pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan ekonomi, pekerjaan penuh dan produktif dan pekerjaan yang layak untuk semua
Tujuan 9. Membangun infrastruktur tangguh, mempromosikan industrialisasi inklusif dan berkelanjutan dan mendorong inovasi
Tujuan 10 Mengurangi ketidaksetaraan dalam dan di antara negara-negara
Tujuan 11. Membuat kota dan pemukiman manusia yang inklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan
Tujuan 12. Pastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan
Tujuan 13. Mengambil tindakan segera untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya *

Sebagai Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) yang akan berakhir masa berlakunya, proses pembentukan  goals lanjutan pasca-2015 dilakukan untuk mendapatkan lebih banyak dan lebih tepat sasaran. Untuk periode 15 tahun kedepan, Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) akan menjadi alat utama untuk mencapai keberlanjutan di seluruh dunia melalui menangani dan menggabungkan tiga pilar pembangunan berkelanjutan keterkaitan (ekonomi, sosial dan lingkungan) dan mereka.
Untuk mendukung pengembangan SDGs, tiga ringkasan kebijakan baru telah dikembangkan oleh UNU Institute untuk Studi Lanjutan Keberlanjutan (UNU-IAS), Proyek Post2015 dan Proyek Pemerintahan Sistem Bumi. Ringkasan kebijakan ini bertujuan untuk menyediakan Kelompok Kerja Terbuka (OWG) untuk Pembangunan Berkelanjutan dengan wawasan tentang bagaimana merumuskan terbaik dan menerapkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Catatan Kebijakan # 1, 'Earth Sistem Tantangan dan Pendekatan Multi-berlapis untuk Development Goals Berkelanjutan' berpendapat untuk pentingnya menyadari bahwa mencapai keberlanjutan tidak hanya membutuhkan memerangi kemiskinan dan lain ancaman terhadap kesejahteraan manusia, tetapi juga konsumsi yang berlebihan dan gaya hidup yang tidak berkelanjutan dalam masyarakat kaya. Ini menunjukkan pendekatan multi-layered dengan SDG target dibingkai dalam istilah global tetapi juga disesuaikan dengan konteks sub-global ketika diperlukan.
Catatan Kebijakan # 2, 'Menghubungkan Pendidikan dan Air di Development Goals Berkelanjutan' adalah sebuah aplikasi Kebijakan Brief # 1, di mana ia berpendapat bahwa pendidikan sangat terkait kemajuan potensial pada tantangan keberlanjutan yang berhubungan dengan air.
Catatan Kebijakan # 3, "Mengintegrasikan Governance ke dalam Sustainable Development Goals ', mengambil tempat Policy Brief # 1, menggali lebih dalam pertanyaan tentang bagaimana mengintegrasikan bukan hanya pemerintahan, tetapi semua aspek itu: baik, efektif dan tata kelola yang adil . Membuat tujuan yang berdiri sendiri pada tata kelola berpendapat untuk memberikan kesempatan yang lebih baik untuk mengambil semua tiga aspek pemerintahan ke rekening, tetapi juga risiko bahwa upaya untuk mencapai 'baik' governance menaungi dua lainnya. Mengintegrasikan pemerintahan ke semua SDGs-isu tertentu sebaliknya, memberikan skenario terbalik; mungkin membuka ruang bagi terciptanya target baik disesuaikan yang memajukan aspek-aspek tertentu dari pemerintahan, namun kemajuan tersebut akan kurang lengkap.
Catatan Kebijakan # 1 dan # 3 batang dari Lokakarya Internasional tentang Pemerintahan dan Pembangunan Berkelanjutan Tujuan. Lokakarya ini dihadiri ulama dan praktisi internasional dengan keahlian pada tata kelola lingkungan global untuk membahas pertanyaan-pertanyaan kunci yang berkaitan dengan tata kelola, dan untuk, agenda pembangunan pasca-2015.
Catatan kebijakan secara resmi dirilis pada forum kebijakan: 'Governance', 'Pendidikan' dan Arsitektur dari Development Goals Berkelanjutan, diselenggarakan 22 Mei 2014, di New York dan co-diselenggarakan oleh UNU-IAS dan Proyek POST2015 (diselenggarakan oleh Tokyo Institute of Technology). Upaya ini telah unik dalam fokus pada tata kelola dan untuk SDGs, dan memberikan wawasan penting dan kompleks dengan pertanyaan apa, dan bagaimana untuk melanjutkan.
Rumusan tersebut merupakan sebuah usaha yang ditempuh oleh petinggi petinggi negara di dunia karena keresahan dan kehawatiran terhadap keberlanjutan bangsa ini. Sebagai generasi muda yang nanti akan memikul tampuk tanggungjawab, apa kita harus diam saja? Tentu tidak. Langkah konkret yang harus dilakukan adalah take action. Tidak hanya demo sana-sini membuat kerusuhan, mengkrtisi pemerintahan, namun dirinya tidak mampu memberi soslusi. Omong kosong. Lebih baik kita simpan saja energy kita untuk memikirkan dan emnciptakan sesuatu yang berguna untuk bangsa ini.
Seorang pahalawan tidak pernah memikirkan dirinya kan muncul dalam sejarah atau tidak. Tapi seorang pemimpin muncuyl karena tuntutan keterbatasan dan ketertidasan. Seorang pemimpin muncul sebgai solusi permasalahan. Membawa pencerahan bagi sesama. Begitu pula untuk bumi yang harus kita jaga dan kita lestarikan.
Sebagai penutup saya akan menuliskan satu bait puisi karya Chairil Anwar
Kami sudah coba apa yang kami bisa Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Pusi tersebut mengandung arti bawa meski kita sudah berjuang berdarah-darah, perjuangan kita belum selesai. Masih banyak tugas yang harus kita selsesaikan dalam mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi ini, karena kewajiban kita lebih besar dari kemampuan yang kita miliki.
Teruslah semangat pemimpin muda!
Miliki naluri pahlawan dalam hati!
Jadilah pahlawan untuk negeri dan untuk bumi pertiwi!

Referensi :
Indonesia National Workshop On Sustainable Development Goals, 2014, Kementerian Koordinator Bidang kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia.
Matta, Anis. 2004. Mencari Pahlawan Indonesia. The Tarbawi Center
Muadz, Abdullah. 7 november 2014 http://depoklik.com/opini-siapa-pahlawan-siapa-penjahat/ 30 november 2014 jam 13.00


November 2014- latepost

Rabu, 30 Desember 2015

Kebaikan Kecil yang Membawa Kebahagiaan

Aku mengenalnya sejak tiga tahun lalu. Satu tahun terakhir kami tinggal satu atap. Satu rumah kontrakan tepatnya. Sebut saja namanya Saiba. Seperti nama India yaa.. J . yaa.. dia memang sedikit alay layaknya gadis India. Secra postur dia tidak terlalu istimewa. Tingginya biasa-biasa saja. Kulitnya cokelat mengkilat khas Indonesia timur dan tubuhnya yang selalu tertutup hijab. Tentu saja tidak bercadar. Justru seringkali ia berhijab mengikuti mode yang lagi in.
Saiba juga biasa-biasa saja dari segi akademisnya. Tidak terlalu menonjol. Yang penting IP masih aman untuk mendapat beasiswa dari direktorat kemahasiswaan. Saiba bukan orang yang rajin belajar, bukan pula orang yang rajin beribadah. Cukup menjalankan kewajiban. Sholat lima waktu dan seringkali tilawah sehabis magrib.
Ia juga bukan orang yang kaya tapi cukup. Ia tidak memiliki motor seperti yang lainnya. Ia justru sering menebeng teman termasuk aku karena kontrakan kami yang jauh. Sering makan tidak teratur karena uang kiriman dan beasiswa yang sudah menipis. Meskipun begitu, ia tidak pernah mengabaikan teman-temannya. Terutama yangs edang kesulitan.
Beberapa kali aku pergi berdua dengannya. Saat itu pula aku memperhatikannya. Malam itu cukup cerah. Tidak hujan karena sedang musim kemarau. Aku pergi berdua dengannya untuk makan malam. Sebelum ke tempat makan, ia minta untuk mampir ke Indomaret sebentar untuk membeli keperluan. Saat itua kau agak heran. Saiba yang biasanya cukup hemat, membeli roti agak banyak. Padahal aku tahu, ia tidak suka ngemil. Tidak suka begadang malam karena memang tidak banyak tugas. Tidak sepertiku J. Aku justru sering menyimpan jajanan untuk persediaan ketika lapar di malam hari.
Selesai berbelanja, kami menuju kedai nasi bakar kesukaan kami. Kebiasaan, kami makan sambil mengobrol. Seperti teringat sesuatu, ia tiba-tiba memanggil abang penjual nasi bakar.
“Bang, pesan nasi bakar dengan lauk sperti ini ya bang.. dibungkus.” Katanya.
“Buat siapa Saiba? Ada yang nitip?” tanyaku.
“Tidak.” Katanya
Ia lalu menjelaskan bahwa nasi itu untuk pedagang asongan yang tadi mangkal di depan Indomaret. Pedagang keliling yang menjajakan kerupuk dari singkong yang mungkin sudah jarang diminati. Samiler, daerah kami menyebutnya demikian.
“aku pengen nanya-nanya sama bapaknya sebenarnya. Tapi aku juga mau kasih nasi ini sama ini.” Ia menunjuk jajanan yang tadi dibelinya di Indomaret.
Ooh.. aku baru sadar, ternyata Saiba sengaja membeli makanan berlebih untuk diberikan kepada pedagang asongan yang sepertinya kelelahan. Seharusnya aku sudah tidak heran dengan hal itu. Saiba pernah melakukannya beberapa kali. Pernah di suatu siang yang terik kami membeli minuman dingin di sebuah warung. Saat itu ada pedagang es krim keliling yang juga memesan nasi. Bukan pedagang es krim bermerk yang sering muncul di tv, tetapai pedagang es dung-dung yang gerobaknya sudah terlihat tua dan rapuh. Tanpa sepengetahuan sang penjual es krim, Saiba membisiki ibu penjaga warung, “biar saya saja yang bayar punya bapaknya bu..” katanya.

Mungkin dia pernah ngeles dengan bilang, “Aku pengen ngobrol dengan bapaknya, tapi nggak enak kalau nggak ngasih apa-apa..” namun sebenarnya aku tahu, Saiba hanya ingin memberi. Tidak ada pamrih di dalamnya. Mungkin ia bukan orang yang dermawan yang suka menyumbang untuk kegiatan-kegiatan amal. Ia juga bukan orang yang gampang untuk diminta iuran kerena memang kondisinya pas-pasan. Tapi ia adalah orang yang peka terhadap lingkungannya. Berhati tulus meski ia pun tidak tahu apakah ia masih bisa makan esok hari. Tidak punya tabungan kerena memang tidak ada yang bisa ditabung. Namun yang aku tahu, ia memiliki banyak tabungan pahala dari doa orang-orang yang pernah secara spontan ia bayarkan makanannya. Tabungan kebahagiaan yang tidak dimiliki orang-orang yang tidak membeli. Kebahagiaan yang ditimbulkan karena senyum orang-orang yang ditraktirnya.


* terima kasih untuk N.A. yang sangat menginspirasiku

Rizal

Waktu sudah menujukkan jam 02.00 pagi. Rizal masih berkutat dengan laptopnya. Sesekali dari mulutnya keluar senandung-senandung sholawat yang memang sering ia dendangkan saat sedang asyik. Entah mengerjakan tugas, atau sekedar main game.
“Belum tidur, Zal?” tanyaku.
“Eh, Mbak Wita. Hehe.. belum mbak. Sedang menginstal software. Lama sekali me-render-nya mbak. Mbak Wita sudah bangun?”
“Biasanya kan memang saya bangun jam segini, Zal.”
Rizal tersenyum. Aku memang sudah terbiasa bangun dini hari. Tidur lebih awal, kemudian bangun sekitar jam satu atau jam dua untuk mengerjakan tugas-tugas kantor atau sekedar baca-baca novel favoritku. Sengaja kuatur jam tidurku sedemikian karena pada jam itu biasanya anak-anak kost sudah tidur. Lebih baik dalam membantu konsentrasi. Pola hidupku memang agak aneh. Aku bisa tidur dalam keadaan gaduh sekali pun, tapi tidak bisa berkonsentrasi jika ada suara-suara yang mengganggu. Karena itu aku pilih tidur duluan kemudian bangun di pagi harinya.
Rumah ini sengaja kami sewakan per kamar untuk mahasiswa Kampus Biru. Terlalu besar kalau sekedar aku tinggali bersama bapak yang sudah sepuh. Ada sekitar tujuh orang yang tinggal di rumah ini. Semuanya laki-laki. Sengaja kami sewakan untuk laki-laki biar ndak susah menjaganya. Kata bapak menjaga anak perempuan itu susah, kalau mereka gaul bebas di luar terus mereka berzina, yang punya rumah juga punya tanggung jawab. Pasalnya kalau anak perempuan biasanya orangtua sengaja menitipkan. Beda kalau laki-laki. Mereka mau melakukan apapun, tidak ada urusan dengan yang punya rumah. Tanggung jawab masing-masing. Aku sih  manut saja apa kata bapak. Toh aku dari pagi sampai sore kerja. Sore sampai sekitar jam delapan malam setelah makan malam sama bapak, aku sudah ngantuk. Mahasiswa biasanya baru pulang setelah jam sembilan atau jam sepuluh setelah kampus tutup.  Kadang mereka membawa teman untuk belajar kelompok dan lainnya. Aku bangun sekitar jam satu. Biasanya satu per satu dari mereka sudah terlelap. Bangun-bangun sudah subuh. Mereka biasanya tidur lagi. Bangun sekitar jam tujuh atau delapan saat aku siap-siap bekerja. Ketemu paling hanya menyapa. Tidak banyak mengobrol. Yaa.. mereka sering mengobrol dengan bapakku yang sudah pensiun. Hanya satu orang yang pernah mengobril denganku sedikit lebih lama disbanding yang lain. Selain itu tidak ada yang lainnya.
Rizal. Bisa dibilang mahasiswa teknik Geologi tingkat tiga ini yang paling sholeh dibanding yang lainnya. Habis magrib sudah pulang. Biasanya langsung nderes qur’an di kamarnya. Setelah isya’an di masjid kalau tidak pergi mengerjakan tugas kelompok ya langsung masuk kamar. Belajar. Kadang-kadang juga internetan di Gazebo belakang rumah, yang memang sengaja kami bangun buat bapak bersantai sambil nyetheti burung. Tempat yang juga favorit anak-anak kost buat ngadem sambil internetan. Tidak pernah kulihat Rizal hang out bersama temannya kecuali ke pesantren Plosokuning untuk mengaji dua minggu sekali di malam Rabu. Paling-paling kalau akhir pekan, ia pulang ke rumahnya di Pekalongan.
Dari tujuh anak kost, Rizal paling sering bertemu denganku di pagi hari. Ia biasa bangun jam setengah empat, tahajud, sholat shubuh, dna tidak pernah tidur lagi setelah subuh. Kalau lagi tidak mengerjakan tugas, ia sesekali membantuku menyiram bunga-bunga atau mengobrol dengan bapak sambil memberi makan burung.
Akhir-akhir ini Rizal jarang pulang ke Pekalongan. Akhir pekan dihabiskan di kost. Tidak biasanya. Baisnya kalu tidak pulang, ya lapangan. Aku yang sebenarnya sangat jarang mengobol, suatu hari keberanikan diri untuk bertanya.
“Tidak pulang lagi, Zal.”
“Hehe..”
“Kamu ini ditanya senyam-senyum. Lagi sibuk di kampus ya? Tapi kok tidak ke Kampus?”
“Welah. Tidak mbak. Sedang ingin mandiri. Beberapa kali ini sering berpikir, mungkin sebentar lagi saya akan bekerja jauh dari rumah. Itung-itung latihan lah mbak. Sambil cari jodoh.”
“ooh.. begitu. Cari jodoh kok di rumah saja Zal. Tidak keluar-keluar seperti teman-temanmu itu.”
“Jodoh sudah ada yang ngatur mbak. Lha mbak Wita kok di rumah saja mbak?”
“Iya Zal. Hari ini jadwalnya menemani bapak Check up. Besok mungkin baru keluar sama mas Rajib.”
“Mbak Wita sudah punya pacar?” Tanya Rizal kaget.
“Sudah Zal. Sudah setahun. Kamu siih tiap minggu pulang.”
“ Lhah sudah setahun kok tidak disegerakan saja mbak?”
“Susah Zal menjelaskannya. Saya masih khawatir sama bapak kalau segera menikah, siapa nanti yang menemani bapak?”
Nduk.. Bapak sudah siap. Ayo berangkat!”
“Iya, Pak. Pergi dulu ya, Zal.”
Minggu berikutnya, Rizal menawarkan diri untuk ikut mengantar bapak kontrol.
“Biar Rizal ngerti dikit-dikit tentang kesehatan mbak. Siapa tahu nanti ketika mbak Wita tidak bisa mengantar, saya bisa menggantikan.”
Beberapa minggu kemudian, Rizal minta dicarikan kursus nyetir mobil yang bagus. Kemudian seringkali ia yang nyetir mobil ketika ikut aku dan bapak check up. Ia jadi makin sering ngobrol sama bapak. Bahkan akhir-akhir ini bapak dengan kursi rodanya ikut Rizal sholat jamaah isya dan shubuh. Dengan didirong Rizal tentunya. Sesuatu yang selama ini tidak mampu kulakukan. Rizal sering memberikanku sms nasihat yang diperolehnya dari Kyai. Membelikanku buku-buku. Dari buku doa, sampai buku Resep.
Suatu hari, Rizal tiba-tiba menghampiriku yang sedang menyiram bunga.
“Saya mau pamit mbak. Insya Allah mulai besok saya sudah magang di perminyakan. Dan sudah tidak kost lagi di sini. Doakan saya kerasan di sana ya mbak..”
“Lhoh! Mendadak sekali Zal? Sudah bilang Bapak?”
“Sudah mbak. Sebulan lalu. Ini juga minta pertimbangan bapak. Bapak.. sudah saya anggap seperti bapak saya sendiri, mbak.”
“Ooo.. ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya Zal.. Maaafkan saya dan bapak kalau kami banyak salah.”
“Sama-sama mbak.. Saya juga minta maaf kalau saya banyak ngerepotin waktu tinggal di sini.”
“ah, tidak juga Zal. Justru saya senang kamu tinggal di sini. Begitu juga bapak. Sejak sering kamu ajak Sholat jamaah ke Masjid, bapak jadi semakin sumringah.” Rizal tersenyum.
“Oiya, ini ada titipan dari ibu di pekalongan. Jilbab batik. Sepertinya cocok untuk mbak Wita.”
“Waah cantik sekali. Terima kasih. Kamu Hati-hati ya Zal. Kamu mau minta hadiah perpisahan apa dariku Zal?”
Rizal tersenyum, “doa saja yang banyak mbak.”
Semenjak itu, aku tidak pernah lagi mendengar kabar darinya.
….
8 bulan kemudian
Langit masih mendung. Orang-orang mulai meninggalkan pemakaman. Tinggal aku sendiri yang masih merenungi kepergian bapak. Belum lagi kering air mataku, tiba-tiba dari arah timur, aku melihat orang yang sangat aku kenal.
“Rizal?”
“Iya mbak Wita. Maaf saya terlambat. Yang sabar ya mbak.. semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.”
“Aaamiin… terima kasih sudah datang.”
“Mmm.. anu mbak. Saya kesini untuk menunaikan janji saya kepada almarhum bapak yang mungkin sudah agak terlambat.”
“Apa itu Zal?”
“Besok malam saja ya mbak. Saya akan datang ke Gazebo belakang.”
Mendung pun berubah menjadi rintik hujan. Rizal berlalu meninggalkanku yang termangu dengan tanda tanya.

Bisakah sepertimu?

Hari ini jam 09.03 setelah sekitar 3 tahun tidak curhat sambil nangis ke ibu. Bukan berarti bahwa saya tidak pernah menelepon ibu, bercerita pada ibu. Saya bercerita, tapi lebih kepada hal-hal yang menyenangkan dan memilih untuk meminta doa tanpa menceritakan masalahnya. Pasalnya, sejak Idul Fitri tahun 2013 lalu saya memutuskan untuk belajar mengatasi masalah saya sendiri. Waktu itu, Mas Yusuf, kakak ketiga saya mengajak saya mengobrol empat mata. Beliau bilang, “Nduk (panggilan sayang kakak saya = panggilan untuk anak perempuan), kamu tahu bahwa kunci dari sebuah keluarga adalah pada wanitanya. Ibu dari rumah tersebut?”
saya hanya diam. Beliau meneruskan, “Wanita itu harus kuat. Kuat untuk mikir dan kuat pada hatinya. Kuat mikir suaminya, kuat mikir anaknya, kuat mikir keluarganya. Orang laki-laki (suami) jika memiliki masalah di luar, di lingkungan kerjanya, pasti yang pertama dicurhati adalah istrinya. Begitu pula dengan anak-anaknya, ada masalah di luar, teman mainnya, sekolahnya, perasaannya pribadi.. semua wanita yang menampung. Dia yang mikir. Untuk menenangkan suaminya, meski tidak selalu memberikan solusi. Setidaknya lebih kepada membuat mereka tenang dan bersemangat untuk menyelesaikan masalah mereka. Itu semua pasti dia lakukan tanpa tahu ia akan bercerita pada siapa.”
“karena itu nduk, kamu ini wanita. Sudah 19 tahun. Sudah saatnya untuk menikah. Belajar mengatasi masalahnya sendiri. Jangan terlalu sering curhat. Orangtua jangan dicurhati, tapi diminta doanya. Kalau sedang ada masalah.. buat belajar, curhatlah sama kakakmu atau kakak iparmu yang bisa ngasih solusi. Jangan kepada orangtua yang bisa jadi tidak memberi solusi, tapi malah ikutan mikir. Ibu sudah tua, jangan ditambahi beban pikirannya. Sebisa mungkin selalu senangkan hatinya.
Nanti kalau sudah berumah tangga, kamu sudah terbiasa mengatasi masalahmu sendiri dan insya Allah mengatasi masalah suami dan anak-anakmu pun akan lebih mudah. Masmu ini sudah berpengalaman nduk.. dulu ketika yang tak ceritakan masalah.. terus. Justru bukan solusi yang masmu dapat, tapi justru keadaan tidak berubah. Kerena masmu sadar bahwa cerita tentang masalah mas justru malah membebani orangtua. Belakangan masmu jadi lebih baik yaa karena doa nduk.. Ndak ada lagi tuh cerita masalah dan keluhan. Yang ada hanya cerita bahagia dan doa. Coba sekarang lihat.. orangtua akan terstimulasi untuk mendoakan yang baik-baik kalau kita cerita yang baik-baik. Begitu juga kalau kita menceritakan keluhan, bukan mendoakan jelek, tapi beliau pasti jadi mikir bahwa anaknya punya masalah. Bisa jadi karena kita menyusahkan pikiran mereka, itu menghalangi doa-doa baik yang mengalir pada kita.
Masmu ndak pengen kamu terlambat menyadarinya. Jangan kayak masmu. Ya? Belajar mengatasi masalahnya sendiri.
Rumah tangga itu adalah kerajaanmu sendiri. Kamu ratunya. Kamu yang mengatur, kamu yang membawa apakah keluarga itu akan bahagia, tenteram, atau tidak. Yaa.. sepandai-pandainya wanitanya. Bukan laki-lakinya. Mereka jadi bagus dalam memimpin keluarga, bagus dalam kerjaannya, ya karena dukungan wanitanya. Laki-laki itu nggak mungkin bisa mikir sendiri. Pasti butuh seseorang yang mendukung. Seseorang selalu tersenyum di belakangnya, bersedia menjadi air yang menenangkan baginya. Tempat dia kembali. Sudah ataupun senang. Maka itu, wanita harus tahan banting.
Kamu sudah gadis. Sudah bisa sir-sir-an sama laki-laki. Sebentar lagi lak yo pengen nikah to..” saya hanya tersipu.
Sejak saat itu, saya putuskan untuk sebisa mungkin mengatasi masalah-masalah saya sendiri. Tapi, saya hanyalah wanita biasa. Butuh sesorang untuk menumpahkan perasaan. Apalagi saya sangat dekat dengan ibu saya. Pagi ini disaat yang sangat sumpek  saya menelepon ibu. Mengabaikan bahwa saya tahu ibu biasa ngaji reboan di Masjid Agung. Ibu sedang di jalan ketika saya menelepon dengan suara manja. Mungkin ibu merasa ada yang tidak beres dari suara saya. Ibu yang biasanya agak keras kalau saya ganggu, kali ini memutuskan pulang dulu menerima telepon saya. Di telepon saya hanya bilang bahwa rhinitis (flu karena alergi) saya kambuh sambil menagis terisak-isak. Tanpa bercerita ibu sudah tahu bahwa saya sedang sumpek. Ibu hanya bilang, “Dzikir nduk.. cerita sama Allah. Doa sama Allah.”
“kalau ada yang mengganggu kita, padhahal kita tidak berbuat apa-apa, yaa.. ikhlaskan saja. Bacakan Al-Faatihah saja. Sama sholawat kepada Kanjeng Nabi. Insya Allah akan baik sendiri. Mohon ketentraman hati sama Allah. Manusia tidak ada yang tidak ada masalah nduk.. Semua orang pasti diuji. Jalani saja ujian hidupmu. Tetaplah taat sama Allah dan baik kepada siapapun. Semoga bisa menjadi amal sholih.”
Tiga puluh menit saya hanya menangis di telepon. Suara isak saya mulai mereda. Ibu pun berkata, “Uwes? Sudah lega? Sudah lega apa belum”
Sampun,”
Yowes. Segera berobat. Aku tak ngaji dulu yaa. Kata Bu Is telat ndak apa-apa kok. Yang penting datang.”
Nggih bu.. dungakno nggih..”
Nggih..” telepon pun ditutup. Saya merasa lebih baik sekarang.
Maafkan saya bu.. Semoga tidak membebani pikiranmu.
Betapa istimewanya seorang ibu. Tanpa bercerita pun sudah tahu masalah anaknya. Rela berkorban demi anaknya. Memberikan nasihat-nasihat yang menentramkan. Naluri sorang ibu selalu bisa merasakan perasan anaknya.
Bu.. apalah artinya diri ini tanpamu. Bu.. meski sudah besar, kami selalu membutuhkanmu. Bu.. bisakah saya sepertimu. Sekuat dirimu. Tidak hanya membesarkan satu anak, melainkan sepuluh pun kau mampu.
Bu.. bisakah?

Selasa, 15 Desember 2015

Sepotong Hikmah dari Seorang Tunggul

Pagi itu dengan berlari-lari saya berusaha mencapai kereta logawa yang sudah mulai berjalan, akhirnya saya berhasil naik dan duduk di kursi saya. Sebenarnya ada fasilitas transportasi mobil dari kantor, namun karena saya hanya sendirian (berdua dengan sopir), saya memilih untuk memakai transportasi umum dengan fresh money di tangan. Dengan transportasi umum ini saya bisa sekalian mampir-mampir. Mampir rumah dan mampir tempat saudara yang belum sempat saya kunjungi ketika libur idul firti yang cukup pendek kemarin.
Tiba di stasiun Klaten, kereta berhenti. Kemudian naiklah seorang bapak paruh baya yang nomor tempat duduknya tepat di sebelah saya. Sebelum duduk beliau mencari-cari tempat tas yang kosong. Saya turut mencarikan. Setelah dapat, beliau duduk. Saya perhatikan wajahnya, sepertinya kenal. Kemudian saya bertanya, “Bapak turun Jombang ya, Pak?”
“Iya, kok tahu?” sambil menoleh ke arah saya. Beliau terkejut.
“Ooo.. kamu to Mbak Ila. Anaknya Pakdhe Yasin. Pangling aku. Iki mau tekan endi awakmu?”
Nama bapak itu Bapak Joko Tunggul yang karena di kompleks perumahan saya banyak yang bernama Pak Joko, kamu cukup menyebut beliau Pak Tunggul saja. Rumahnya satu blok dengan rumah orangtua saya, selisih lima rumah. Beliau banyak bercerita tentang kisah masa kecilnya. Masa-masa kuliahnya di UNS yang berat, masa kuliah sambil jual areng sehingga ketika lulus D3 dengan gelar BA, bukan Bachelor of Arts namun diplesetkan menjadi (Bakul Areng). Masa ketika pengabdian di daerah, direkrut oleh Pemda Metro dan Pemda Tulungagung, memutuskan jadi pegawai swasta, sampai akhirnya pensiun dan membuka usaha pelatihan. Banyak hal yang saya dapatkan. Tidak hanya sekedar cerita, namun juga nilai perjuangan.
Di tengah, beliau bertanya tentang kuliah saya, mau ngapain setelah lulus. Lucunya, beliau membumbui pertanyaannya dengan pesan, “Jangan jadi PNS ya, mbak?” haha.. padahal istri dan anak kedua beliau PNS. Kemudian beliau bercerita tentang pengalaman beliau pengabdian di beberapa kota, kemudian karena kinerja yang bagus, pintar dalam hal keuangan, beliau dilirik oleh Pemda setempat untuk jadi PNS jalur khusus. Namun beliau menolak. Beliau bilang bahwa sebenarnya pekerjaan PNS itu bisa selesai sampai jam 11 saja. Selebihnya, sangat tidak produktif. Banyak ngobrol, banyak gabut. Banyak waktu yang bisa kita gunakan lebih. Seandainya beliau menerima, pasti pangkatnya sudah tinggi. Namun ada idealisme lain yang beliau perjuangkan. Keinginan agar bisa lebih banyak waktu untuk keluarga, orangtua, serta untuk mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi untuk membiayai adik-adik beliau yang masih sekolah.
Beliau kini sudah pensiun. Pensiun tidak membuat beliau berhenti dari aktivitas. Menganggur itu tidak enak. Kita akan lebih cepat tua dan cepat pikun. Beliau mendirikan sebuat CV yang melakukan pelatihan dan uji kompetensi tenaga pendidik. Memfasilitasi keluhan istri beliau (kebetulan guru saya juga ketika SMP) tentang tenaga pendidik yang sangat banyak namun tidak kompeten dalam mengajar. CV ini kemudian banyak memfasilitasi program Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial Kabupaten Jombang. Sebisa mungkin kita harus selalu produktif.  Di Indonesia ini banyak orang tidak produktif. Jangan menambah-nambah kuota orang tidak produktif. Kalau bisa lakukanlah sesuatu untuk negara ini. Orang tidak produktif bisa jadi bukan hanya karena sistem pemerintah yang tidak membawa kemajuan, tapi juga karena manusianya sendiri yang tidak mau maju. Tidak mau bertindak kreatif.

Percakapan ini berlangsung kurang lebih tiga jam, dengan sesekali saya timpali. Setelah jam 12.30 sepertinya beliau lelah dan tertidur. Saya pun demikian. Sampai akhirnya saatnya kami turun di stasiun Jombang.

Petani, KUR (Kredit Usaha Rakyat), dan Koperasi

Siang itu saya sengaja mampir ke sawah menemui beberapa petani yang sedang beristirahat untuk uji kuesioner. Selain wawancara dengan kuesioner yang telah disediakan, saya memanfaatkan kesempatan untuk menggali lebih lanjut tentang petani dan seluk-beluknya. Mulai dari pola tanam, keuntungan atau kerugian, falsafah hidup petani (nantkan kuceritakan lebih lanjut di cerita berikutnya), dan yang paling penting tentang pinjaman dan kredit.
Kalian tahu bahwa sekarang ada program pemerintah yang namanya Kredit Usaha Rakyat yang disepanjang cerita ini akan disebut KUR. KUR ini dikelola oleh pemerintah yang diwakili oleh Bank Umum BRI. Yaa.. BRI (Bank Rakyat Indonesia) sedianya memang dibangun untuk rakyat kecil dengan model tabungan SIMPEDES sehingga program pemerintah guna meningkatkan produktivitas petani ini memang sangat cocok jika dikelola oleh BRI. Namun tahukah kamu pada awal 2015 lalu BRI telah dijual? 87% saham BRI telah dikuasai oleh asing. Saya belum menggali lebih lanjut tentang KUR ini karena minimnya literasi. Hanya yang sedikit saya temukan memalui software pencari google bahwa pemerintah memberikan bonus sebesar 22% atas KUR ini kepada BRI sedangkan yang diberikan kepada petani hanya 6%. Kemudian kemana 16%nya? Yaa.. ini adalah keuntungan BRI yang sudah dikuasai asing ini. Saya tidak tahu apa yang dipikirkan oleh orang-orang pintar di pemerintahan sana. Semoga mereka tidak memiliki niat buruk terhadap bangsanya sendiri.
Kemudian apa hubungannya dengan koperasi? Koperasi adalah soko guru perekonomian bangsa Indonesia. Yang sistemnya you know lah.. dari oleh dan untuk anggota. Termasuk di sini adalah koperasi petani yang diakomodasi oleh KUD (Koperasi Unit Desa). Koperasi di sini utamanya untuk menghimpun hasil usah petani, mengelola dan menjual, memeberikan kredit dan pinjaman kemudian membagikan hasil usaha. Sistem ini yang dinilai sangat sustain untuk perekonomian bangsa Indonesia. Namun seiring dengan adanya KUR, petani jadi sangat sedikit yang melaporkan, menyimpan atau menjual hasil panennya di koperasi.
 Adanya KUR  dengan anggunan mudah dan cepat tentunya sangat menguntungkan bagi petani, kata bapak PS responden saya waktu itu. Proposal cepat acc dan uang cepat turun. Tidak berat ngangsurnya. Petani jadi lebih produktif. Gampang dapat pupuk dan mudah dari segi pengairan. Respon tersebut menunjukkan bahwa KUR memang tepat untuk meningkatkan produktivitas petani.

Dilema Koperasi, KUR yang menguntungkan petani serta KUR yang dikelola oleh BRI yang dikuasai asing menjadi mata rantai yang tak terpisahkan. Saya bukanlah ahli ekonomi maupun ahli pertanian. Hanya menemukan hal lain yang menarik dari sekedar survei. Yaa.. saya memang perlu menggali lebih lanjut soal ini. Sebagai seorang akademisi tidak seharusnya saya menutup mata dari pengetahuan saya yang bukan bidang saya bukan? Meskipun saya tidak ahli benar dalam bidang tersebut, setidaknya saya mampu menghubungkan antara fakta-fakta dan keadaan.