You cannot force someone to like you
You cannot force someone to be like you
Every one is unique
Just be yourself and always be kind to other
Selasa, 02 Februari 2016
Selasa, 05 Januari 2016
Obrolan kamar sebelah – Playgirl atau Giver?
Warna-warni
dunia wanita. Tidak hanya bajunya tapi juga segala hal tentangnya. Sampai pemerah
bibir saja warna-warni. Sayang saya sedikit tidak nyaman kalau pakai pemerah
bibir (Hlah). Bukan pemerah bibir yang akan kita tuliskan kali ini yaa pembaca
yang budiman dan budiwoman, tapi ada sisi khusus dari wanita yang seringkali
wanita lain iri, bisa jadi menginginkan, tapi juga benci.
Yak, derita
orang cantik kalau ternyata banyak yang suka. Derita wanita ramah kalau ternyata
banyak yang pedekate dan menyatakan cinta. Yang ditolak sakit hati, yang
gebetan orang lain jadi suka sama kita juga tiba-tiba benci sama orang cantik
tersebut. Padahal logikanya, bukan salah orang tersebut?
Contoh satu
kasus. Kamu sukaa banget sama seorang jajaka (emangnya kamu mojang?). kamu
nggak berani mengungkapkan perasaanmu. Kamu hanya cerita ke sahabatmu, yang
mungkin hanya mendengar curhatanmu tanpa mampu bikin kamu dan gebetanmu
bersatu. Mungkin karena kharisma sahabatmu lebih waah daripada kamu, eeh
lhadalah.. lima bulan kemudian jajaka yang kamu taksir suka sama sahabatmu. Dan
kamu melihat adegan door to door dengan mata kepalamu sendiri. Ouch.. sakitnya
tuh di sini (kata Cita-Citata). Dalam kasus ini apakah sahabatmu salah? Tidak! Dia
hanya pada posisi yang tidak tepat. Perasaan orang siapa yang tahu? Perasaan juga
tidak bisa dipaksakan.
pada suatu waktu
di masa remaja saya menuju masa dewasa yang gemilang, saya menemui beberapa
tipe wanita menarik. Tidak bisa dipungkiri bahwa seluruh bagian dari wanita
menarik. Mulai dari wajah, postur tubuh, gaya bicara, kecerdasan, kelembutan,
kebijaksanaan.. terutama wajah. Bagian itu paling menarik (pria) diantara yang
lainnya (sejauh obrolan saya dengan ketujuh kakak (laki-laki) kandung saya sih
begitu). Ada satu teman saya yang hampir absolut, semua orang menganggapnya
cantik. Meski kata orang cantik itu relatif dan semua berkaitan dengan selera. Dia
selama 22 tahun hidupnya sudah ditembak oleh 37 laki-laki. (Buseet.. hebat yaa
nggak mati-mati). Begitu dia kosong, adaa saja yang nembak. Kalau orangnya oke,
ya diterima kalau tidak oke, yaa ditolak. Pacaran paling yaa.. dua bulan-tiga
bulan, bosan, putus. Ada lagi yang nembak. Begitu seterusnya. Sampai dia mulai
lelah. Belakangan dia menempuh jaur yang biasa dilewati oleh para ukhti, yaitu
tidak pacaran sebelum menikah. Ngerrik.. alhamdulillah.. subhanallah..
ada juga nih,
adek angkatan saya yang cantik. Tinggi semampai, kulit putih mulus tanpa
jerawat. Suka mengaji, tapi agak “jutek”. Dia banyak juga tuh yang naksir. Tepatnya
banyak yang godai. Ih.. si iteung cantik bangeet.. mau doong sama iteung..
hah.. ga bisa diitung deeh.. yang bilang kayak gitu ke dia. Responnya, “saya
mah mah sudah biasa mbak.. kalau dulu paling saya baper. Tapi sekarang sudah
enggak lagi. Yasudah biasa saja. Sudah sering.” Katanya. Wanita tipe ini
biasanya hanya sedikit pria yang berani mendekati secara serius, beneran pantang
menyerah untuk mendapatkannya. Menerjang semua kecuekan dan kejutekan sang
wanita. Yuhuu.. Semangat ya mas.. semoga berhasil.
Ini ada lagi
nih.. yang sebenarnya, dia nggak cantik-cantik banget siih.. dari segi wajah. Banyak
yang (orang melihat) orang lain lebih cantik darinya. Tapi dia ini istimewa. Dia
ceria, supel, dewasa, bisa jadi dia juga punya kepribadian yang aneh. Yang jelas, dia mampu membuat orang di
dekatnya merasa nyaman. Wanita seperti ini biasanya juga banyak (bisa jadi
lebih dari satu) yang menyatakan cinta padanya. Bahkan sahabatnya sendiri. Padahal
dia sebenarnya bersikap yang sama ke semua orang. Ini orang yang saya temui
tidak cuma satu yaa. Ada lebih dari satu orang yang demikian. Baik dari suku
Jawa, Sunda, Minang, ada aja yang seperti itu.
Wanita macam ini biasanya tidak suka menolak karena takut menyakiti. Yaa..
terima sajalah.. jalani saja dulu. Begitu nggak cocok, tidak lama kemudian, ada
lagi tuh yang mendekati. Dia juga tidak menolak lagi. Karena bagi dia, semua
orang itu baik, mereka tidak layak disakiti gaees. Jadi yaa.. tidak ada
salahnya diberikan kesempatan. Biasanya dia juga tidak terlalu lama mengalami
masa kekosongan. Apakah dia playgirl? Banyak orang menganggapnya demikian. Tapi
menurut saya, dia bukan playgirl. Dia itu giver. Kalau playgirl, dia bisa jadi
punya banyak pasangan dalam satu waktu. Memberikan harapan pada setiap pria
yang mendekatinya secara bersamaan. Kalu tipe ini giver. Dia mungkin tersenyum
dengan cara yang sama pada semua orang. Tapi dia setia pada satu pasangan. Baru
kalau sudah bubar, emang cepat dapat lagi. Itu mungkin karena dia emang baik
kali yaa. Nggak tega menolak, karena itu akan menyakiti.
Yak, itu sedikit
dari pandangan saya. Bisa jadi benar, bisa jadi banyak salahnya. Terbuka bagi
siapa pun. Mau setuju atau tidak. Syukur-syukur bisa menambahkan.
See you next
write..
Senin, 04 Januari 2016
Home sweet home-Rumah Impian-part 2- komponen fisik rumah untuk jomblo
Jika ditanya
komponen fisik rumah.. mmm.. sebenarnya sesuai life plan saya dari tahun ke
tahun, ada beberapa tipe rumah yang saya inginkan. Ngayal mode on juga siih
ini. Ndak papa.. setidaknya saya pernah ngayal. Daripada ngayal aja ndak
pernah.. kasihan banget hehe.. becanda.
Jadi, untuk saat
ini, karena status saya sebagai mahasiswa dan masih single (yaah.. palingan
kalau tahun ini ada yang ngelamar saya juga ndak butuh banyak-banyak ruangan
lah yaa J
.) ini sepertinya tipe yang cocok.
Dari segi
design, design minimalis sederhana nampaknya cocok. Paling tidak terdiri atas
dua kamar tidur. Satu untuk saya pribadi dan satu untuk kamar tamu yang ready to be slept. Atau kalau tidak,
bisa juga menyekat satu ruangan (ruang tamu misalnya) dengan papan atau kain
(kalau terlalu mahal untuk pakai papan). Nah, kalau memang beneran kamarnya cuma
satu dan ruangan sempit, kita bisa menyulap ruang tamu jadi tempat tidur
dadakan. Misalnya pakai kasur lipat, karpet, selimut yang ditumpuk-tumpuk, atau
kalau ada simpanan sleeping bag
mungkin lebih baik. Jadi, kalau ada tamu yang menginap bisa nyaman juga
tidurnya.
Hmm.. sebenarnya
saya tidak terlalu suka ruang tamu bersofa yaa.. karena menurut saya (untuk
saat ini, besok mungkin tidak) agak lebih susah membersihkannya. Mesti membersihkan
kolong, menggeser-geser. Jadi saya lebih suka ruang tamu dengan model lesehan
yang dilengkapi dengan karpet, bantal duduk, dan meja lipat yang mudah
dipindahkan untuk menempatkan suguhan seperti air minum dan cemilan. Yaa saya
pikir, model seprti ini cukup untuk menampung lebih banyak orang dibanding
menggunakan sofa atau kursi. Barangkali nanti teman-teman saya mau berkumpul
buat rapat, ngerujak, atau buat halaqoh eeaa. Meski lesehan, saya juga harus
tetap menyediakan kursi atau satu sofa unik yang mudah disimpan dan
dipindahkan. Buat jaga-jaga kalau nanti tamu saya adalah orang tua yang tidak
nyaman duduk di lantai.
Oiya sediakan
rak buku yang unik di ruang tamu. Kalau bisa bukunya yang banyak deh.. nanti,
di rak paling bawah, buku-buku bergambar dan cerita anak. Kemudian di rak yang
lebih tinggi ada buku-buku yang rada mikir buat dibaca orang dewasa. Ruang tamunya
harus didesign yang indah dan nyaman. Ada ornamen bunga-bunga (tempelan aja, ga
perlu pakai vas, nanti pecah klo ada anak lari-larian). Lalu ada juga papan
atau tembok yang sengaja dikotakin untuk papan coret-coret. Kok kesannya banyak
ditujukan buat anak-anak ya? Ini bukan karena saya sudah banyak anak (remember
rumah ini didesign untuk saya yang masih single), tapi saya senang dengan
anak-anak. Saya senang bermain dengan mereka. Berasaa.. jadi anak-anak kembali
hehe. Banyaklah pelajaran yang bisa kita ambil dari anak-anak. Nanti saya
ceritakan di tulisan yang lain. Di samping itu, saya bungsu dari sepuluh
bersaudara. Kakak-kakak saya sudah pada menikah dan punya anak. Jadi yaa..
nanti kalau mereka mampir ke rumah, biar anak-anaknya kerasan gitu. Oiya,
jangan lupa siapkan permainan puzzle, lego, plastisin, kertas lipat dan boneka
yang tersimpan dalam kotak khusus.
Selesai dengan
ruang tamu, beralih ke kamar tidur. Kamar tidur tidak terlalu urgent lah yaa..
yang penting rapi, ada lemari pakaian dan cukup sinar matahari.
Langsung saja ke
dapur dan ruang makan (sebenarnya di mana pun juga bisa dijadikan tempat
makan). Dapur dalam bayangan saya model pantry. Jadi lebih minimalis. Dengan kompor
dan wastafel tempat cuci piring, rak piring yang kecil, dan lemari gantung
tempat menaruh tempat makan lain dan bumbu-bumbu yang tidak mudah basi seperti
gula, garam, kopi, teh, susu bubuk, margarin dan sebagainya. Untuk bumbu rempah
ditempatkan di rak terbuka yang terkena angin jadi tidak mudah busuk. Untuk buah-buahan
dan sayuran, saya harap saya juga punya kulkas untuk menyimpan.
Rasanya kurang
banget yaa.. kalau tidak ada kamar mandi. Mau mandi di mana? Numpang tetangga? Yaa
enggak lah yauw. Kamar mandi yang standar aja, dari segi luas dan komponen. Karena
kita mau menghemat air, model kamar mandi pakai shower namun tetap disediakan
keran air dan ember yang mudah dibersihkan
dan dipindahkan. Design kloset ergonomis alias kloset jongkok untuk lebih
afdholnya membersihkan diri dari najis dan menjaga rasa malu dari malaikat dan
dari setan-setan yang mengintip. Cermin tidak di kamar mandi. Tapi di luar, di
dekat pintu. Jadi habis mandi, keluar kamar mandi, baca doa, trus bercermin
deeh..
Lalu teras atau
halaman. Saya ingin ada pohon yang menaungi jadi tidak panas. Lebih asyik lagi
kalau ada dahan besar yang bisa dijadian sandaran untuk ayunan. Tanah yang
dipenuhi rumput, serta beberapa pot bunga yang mekar. Lalu di paling depan
tertera tulisan, “RUMAH BACA MAWAR”. Mengapa mawar? Mawar itu akronim dari Mawaddah
WARohmah hehe.. tidak-tidak. Hanya bercanda. sebenarnya suka saja dengan bunga
mawar. Tidak lebih.
Yak, sekian
sedikit impian saya tentang design rumah ketika single. Semoga Alloh mengijabah
tulisan saya... aaamiin.. Ya Alloh...
See you next
write.
Home sweet home-Rumah Impian-part 1-Lokasi
Semenjak ultah
saya yang ke-22 september lalu (masih muda kan yaa.. J ), entah mengapa saya ingin
sekali punya rumah. Saya juga minta dodoakan sama ibu biar bisa punya rumah di
tahun 2016. Ibu saya bilang, “ aamiin..” gitu, lalu bertanya, “Emang tabunganmu
berapa kok pengen punya rumah?” saya jawab, “Anu.. aku ikut undian belanja
mirota buk.. hehe” kontan saja ibu saya tertawa tertahan sedikit lama kemudian
lepas karena ndak tahan. Haha.. emang konyol sih saya yaa.. Tapi, saya tetap
percaya. Mungkin buat saya mustahil. Masih kuliah, belum lulus, masih butuh
duit buat mengerakan skripsi, KKN, masih mengandalkan kiriman orang tua (malu)
dan mengandalkan beasiswa, belum kerja pula. Tapi saya selalu ingat bahwa ‘Tidak
ada yang mustahil bagi Alloh’. Kalau Alloh sudah berkehendak, “Kun-Jadilah! Maka
Jadilah”. Ibu saya juga sering bilang, “minta saja sama Alloh. Gratis kok.
Alloh selau mendengar.” Setiap kali saya kumat ngayalnya hehe.
Mungkin saudara
pembaca sedikit bertanya,”kenapa sih, saya pengen banget punya tumah? Saya kan
masih muda?” nah.. justru karena saya masih muda, saya pengen punya rumah sejak
dini. Biar tidak terlalu banyak pertimbangan. Tapi tetap perlu dipertimbangkan
juga siih.. tidak sekedar punya rumah saja.
Jadi begini,
ketika nanti saya punya rumah, pertimbangan pertama adalah Lokasi. Sejak kecil
saya tinggal di kota (meski kotanya Jombang juga ndak kota-kota banget siih..),
makanya saya pengeen banget tinggal di desa. Yaa.. desanya pinggiran lah.. biar
ndak remote-remote banget. Yang jelas saya pengen punya rumah yang kondisi
lingkungannya masih asri dan kehidupan masyarakatnya guyub. Sedikit syarat
lokasi biar menunjukkan kalau saya kuliah di Geografi, saya ingin tinggal di
daerah dengan morfologi bergelombang sampai datar pada bentuk lahan vulkanik
atau vulkanik tua (yang sudah lama tidak meletus). Tipe akuifer pasiran yang
menandakan air tanah yang melimpah. Untuk saat ini yang saya lirik adalah
Sleman. Yaa.. kali aa ternyata suami saya nanti dosen UGM. Kan tidak terlalu
jauh dari kampus. (ngayal mode on.. J
). Mengapa bukan saya saja yang jadi dosen UGM? Ooh.. itu tidak mungkin
saudara-saudara. Pertama, IP saya jelek. Banyak yang jauh lebih baik daripada
saya. Kedua, saya tidak terlalu dekat dengan dosen yang mungkin bisa
merekomendasikan saya jadi dosen. Ketiga, ini yang paling penting. Saya tidak
ingin jadi dosen. Saya ingin jadi ibunya anak-anak saja. Alias punya sekolah
sendiri, ngajarin anak paud, Tk, sampe SD. Yang besar-besar biar dididik bapaknya
sajalah yaa (Ssopo kuwi? Haa embuh).
Okay. Kembali lagi
pada lokasi. Kalau tidak di daerah vulkanis, saya ingin tinggal di daerah
intervolcano basin. Apa itu? Daerah datar yang dikelilingi oleh gunung api. Contohnya
Jombang, kampung halaman saya. Nah.. sudah tahu kan, sebenarnya saya pengen
tinggal di mana? Kalau tidak di Jombang yaa di Sleman. Mengapa daerah
intervolcano basin yang saya pilih? Jadi daerah intervolacano basin itu masih dipengaruhi
sama aktivitas gunung apai meski tidak secara langsung. Kalau tak jelasin
panjang nanti. Saya juga ndak terlalu pinter. Yang jelas daerah tersebut pasti
kaya air. Tidak gampang kekeringan. Dangkal saja ngebornya, langsung deh
nyumber. Cuma yaa itu, hati-hati kalau nggali kubur hehe. Di samping itu,
daerah ini pasti jadi lumbung pangan. Tanaman pangan kayata padi, jagung,
ketela, kentang, gampang tumbuh di sini. Insya Allah kalau tinggal di sini
tidak kekurangan bahan pangan. Mudah didapat. (Cuma masalahnya punya duit atau
enggak).
Khayalan saya
lagi nih, nanti kalau sudah tua, sudah pensiun, saya pengen bertani. Bertani sayur
dan buah. Juga merawat bunga. Kan enak, kalau tempatnya seperti itu.
Okay. Cukup untuk
saat ini tentang lokasi. Yak.. karena dosen saya sudah datang, saya pun harus
mengakhirinya. Lain kali kita sambung.
Menunggu dosen
di pagi hari
Persiapan menyambut tamu yang menginap dadakan
Cuaca yang tidak
terduga, transportasi umum yang tidak selalu ada, atau kekhawatiran tentang
keamanan seringkali membuat kita terpaksa menginap dadakan. Jika posisi kita
sebagai seseorang yang bertamu, yaa mestinya kita sudah persiapan. Paling tidak
bawa sikat gigi dan daleman. Terutama buat yang wanita. Beberapa waktu lalu
saya kejadian musti menginap dadakan. Tidak bawa baju ganti, daleman, sikat
gigi.. Yaa.. memang rencana tidak menginap siih.. berangkat pagi pulang sore
gitu. Tepatnya di rumah kakak saya yang baru saja punya dedek bayi. Tidak terduga,
si dedek bayi muntah di pakaian saya, kontan saja saya mesti tinggal dan
mencuci pakaian saya. Meski sore hari pakaian saya sudah kering, kakak saya
melarang saya pulang. Menginap saja di rumahnya. Inilah istimewanya kakak ipar
saya (kakak saya mungkin tidak mikir hehe.. maklum laki-laki). Kakak ipar saya
menanyakan segala hal, seperti bawa daleman, bawa sikat gigi atau tidak. Kemudian
Mbak Winda, nama kakak ipar saya, menunjukkan tempat-tempat ia menaruh
barang-barang tersebut. Masih baru tentunya. Waktu sudah malam, saatnya saya
bersiap untuk tidur. Setelah membersihkan diri di kamar mandi, saya menuju
kamar yang sudah ditunjuk kakak saya. Di sana sudah disiapkan kasur dengan
seprai yang baru. Kipas angin karena cuaca sedang panas-panasnya. Dan sebuah
baju yang nyaman untuk tidur. Hmm.. sya masih single. Belum punya rumah
sendiri. Saya belajar banyak hal dari sini.
Tamu, meskipun
dia saudara kita yang paling dekat sekalipun, ia tetap adalah tamu. Maka harus
kita jamu sebaik-baiknya. Salah satu tanda orang beriman juga menghormati tamu.
Karena itu, mulai sekarang, karena saya masih ngekost, saya ingin menjamu tamu
dengan sebaik-baiknya.
Hal-hal yang berlu
dipersiapkan adalah.
1.
Kamar yang selalu rapi. (tidak hanya buat tamu,
tapi juga buat pribadi)
2.
Kasur yang bersih dan rapi dan seprai yang
diganti secara berkala.
3.
Beberapa sikat gigi baru.
4.
Beberapa celana dalam baru.
5.
Baju tidur yang nyaman dan bersih siap pakai. Bisa
kaos, daster, celana babydoll..
6.
Air minum yang selalu tersedia.
7.
Makanan-bisa dibeli atau dimasak ketika
dibutuhkan.
Kalau nanti
sudah berkeluarga, punya rumah sendiri, ada yang perlu ditambahkan.
1.
Kamar tamu. Kalau ada ruangan alhamdulillah..
kalau tidak ada, bisa kita persiapkan ruangan yang bisa disekat sebagai tempat
tidur. Terutama jika yang menginap tamu wanita yang mesti tidur dalam ruangan
tertutup.
2.
Kalau tamu wanita persiapannya kurang lebih sama
seperti yang sudah saya tulis ketika saya masih di kost.
3.
Kalau tamu pria perlu disiapkan juga daleman
pria (biar bapaknya yang beli) dan sarung atau training mungkin cukup untuk baju
tidur.
4.
Bahan makanan.
Yak kurang lebih
demikian. Nanti kalau ada masukan lagi mungkin bisa saya tambahkan. Oiya,
jangan lupa, selalu pasang waah senyum yang ramah. Semoga kita dapat menjamu
tamu dengan sebaik-baiknya.. :)
“Mengobati” Indonesia untuk Indonesia Lebih Maju
Adjie
masaid
Awan hitam menutupi dunia hiburan
Indonesia. Seluruh media masa geger memuat halaman utama kematian aktor Adjie Masaid.
Dijemput maut selepas bermain futsal, bagi kebanyakan orang, adalah adalah hal
yang kontradiktif. Karena olahraga disandingkan dengan gaya hidup sehat, jauh
dari penyakit, dan berumur panjang. Juah dari logika publik, jika seorang
pegiat olahraga menemui ajal di lapangan hijau. Akan tetapi, Adjie masaid
bukanlah kali pertama artis yang mendadak mati usai berolahraga, benyamin sueb,
basuki dan artis-artis lainnya lebih dahulu meninggal seusai bermain bola.
Tentu, beragam cerita pernah didapati disekitar kita seusai aktivitas kemudian
meninggal, atau meninggal tanpa aktivitas dan tanpa gejala apapun. Tentu saja
kesimpulan ini bukanlah ingin menyalahi Takdir yang sudah ditetapkan oleh tuhan,
akan tetapi inilah gambaran sesungguhnya bahwa fenomena di atas adalah gambaran
dari sudden death. Kematian tiba-tiba
karena penyakit kardiovaskuler yang tidak terdeteksi. Fenomena seperti ni
merupakan salah satu potret bangsa ini saat ini. Indonesia sedang di bom oleh
negara adidaya melalui sedentary life
style. Hidup modern ala instan. Atau fenomena dimana saat ini banyak pria
yang gemar nge-gym tapi tetap sering sakit, mudah lelah, dan tidak bugar. Hidup
modern ala instan.
Malnutrisi
“Orang
bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”
Lagu yang indah, indonesia yang makmur
dan subur. Tapi faktanya, kelaparan masih melanda Indonesia. Kemiskinan adalah cerminan
masyarakat yang belum tertuntaskan. Indonesia sedang mengalami bencana
malnutrisi. Seperti hal yang mustahil. Bagaimana bisa negara agraris tetapi
harus memasok kebutuhan dari negara lain. Ibarat orang asing di negeri sendiri.
Seperti tamu yang masuk ke rumah sendiri dan hanya boleh masuk tanpa harus ikut
campur mengutak-atik segala urusan yang ada di dalam rumah. Seperti itulah gambaran
negeri ini. Banyak aset, banyak kekayaan melimpah, akan tetapi aset itu milik
orang asing, kekayaan itu kini mengalir ke negeri sebelah. Salah satu dampaknya
adalah negeri yang tropis subur makmur ini, masih harus mengimpor bahan pokok
sehari-hari. Dan fenomena yang terjadi adalah double burn malnutrition. Perlu diketahui bahwa malnutrisi bukanlah
hanya kekurangan gizi saja yang di asosiasikan dengan kemiskinan, akan tetapi nutrisi
yang berlebihan dan obesitas. Dikatakan double
burn karena fenomena ini tidak hanya mengena pada masyarakat kelas bawah
saja, akan tetapi juga kelas atas. Atas bawah kena. semua menjadi korban. Apa
yang digelisahkan dari malnutrsi? Bagi si miskin, mahalnya barang pokok
sehari-hari, karena ketidakmampuan dalam negeri memenuhi pangan, membuat gizi
tidak tercukupi. Makan ala kadarnya, yang penting kenyang, atau lebih sering
tidak makan. Hal ini sangat berbahaya bagi ibu hamil dan bayi. Karena 1000 hari
sejak diciptakan, dimulai sejak masa kandungan hingga pasca dilahirkan, adalah
masa yang sangat penting untuk pertumbuhan dan pemenuhan nutrisi. Inilah yang
disebut masa pertumbuhan emas. Guru besar kedokteran UGM, Hadi dkk meneliti
bahwa orang-orang yang nutrisinya tidak tercukupi pada 1000 hari pertama
kehidupan, maka akan menimbulkan pertumbuhan yang lambat, baik dari segi fisik,
kognitif, mengelola emosi dan sosial serta mental dan fungsi-fungsi eksekutif.
Indonesia saat ini menjadi negara pemyumbang orang pendek terbesar kelima
seluruh dunia. Pertumbuhan yang lambat karena kekurangan gizi dipegang
indonesia sebesar 37%. Artinya jika ada 3 orang berjalan dengan usia yang sama,
maka satu diantaranya bertubuh kecil. Pertumbuhan kognitif yang lambat adalah
bomerang. Bagaimana mungkin bangsa ini maju, jika sumber daya yang ada tidak
mampu berpikir cerdas. Selain itu dampak yang ditimbulkan adalah keterbelakangan
mental. Kesehatan mental adalah cerminan jiwa yang sehat, berkhalak baik dan
berprilaku santun. Hadi dkk dalam penelitiannya tahun 2013 sungguh
mencengangkan bahwa orang-orang yang kecilnya tidak mendapat asupan nutrisi
yang cukup, maka setelah tua dan dewasa
akan mudah terkena penyakit-penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung,
diabetes dan stroke.
Tetapi sayangnya,
bagaimana memikirkan nutrisi jika untuk menghidupkan tungku-tungku rumah saja
mereka tidak mampu. Jika si balita selalu diberi makan mie instan setiap hari.
Untuk menjaga kesehatan, olahraga sangat diwajibkan. Tetapi, bagaimana orang
mau bermain bola, jika lahan saja sudah tidak ada dan sekarang harus bayar pula
setiap jamnya. Bagaimana orang bisa berolahraga jika si pejalan kaki selalu
kalah dengan motor. Jika trotoar kini menjadi lapak para pedagang bahkan
dijadikan lahan parkir dan jalan untuk si motor. Bagaimana bisa bersepeda jika
ulah si motor selalu egois selip sana selip sini dan tidak peduli si pejalan
hendak menyebrang. Untuk bernapas saja kami masih harus diracuni asap rokok
dimanapun, angkot, bus kota bahkan mushola dan tempat-tempat umum lainnya. Saat
ini banyak masyarakat kita yang berperilaku konsumif. Mengabaikan kesehatan
demi kenikmatan sesaat. Tidak bisa disalahkan jika setiap waktu masyarakat kita
dibanjiri iklan-iklan akan nikmatnya segala hal yang serba instan. Disaat
makanan siap saji tidak bernutrisi dan hanya mendatangkan rugi membanjiri
jalan-jalan kota dan pusat perbelanjaan. Si rokok mulai diperhitungkan
kehadirannya meskipun belum ada regulasi untuk si “siap saji’. Padahal makanan
ini adalah silent killer penyebab
meningkatnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit degeneratif.
Penyakit-peyakit degeneratif tersebut
tidak hanya menyerang kalangan tua saja, tapi kini usia muda bahkan segala
jenis usia bisa terkena. Kategori penyakit yang sangat mahal, sangt sulit untuk
bisa kembali normal dan harus mengidap hingga seumur hidup. Bisa dibayangkan,
berapa angka yang harus dikeluarkan negara untuk membiayai rakyatnya dengan
penyakit-penyakit mahal ini. Bagaimana kualitas bangsa jika rakyatnya yang
banyak ini justru tidak mampu berproduksi dan bekerja. Akan banyak keluarga
yang terlantar dan anak-anak muda yang tidak bisa berkarya. Maka, masalah pangan
bukanlah masalah hari ini saja karena tidak mampu terpenuhinya kebutuhan. Akan
tetapi, masalah jangka panjang bahkan kemajuan bangsa.
Sedentary
Life
Bagi kaum menengah ke atas, kesibukan
membuat dunia ingin serba cepat. Segala fasilitas dipenuhi untuk memanjakan hajat hidup setiap manusia. Bahkan alasan
kesibukan, membuat gaya hidup instan menjadi sebuah trend. Maraknya makanan berkolesterol tinggi, makanan siap saji
semakin disukai. Harga yang mahal tidak khawatir demi sebuah harga diri. Tidak
sedikit juga yang murah. Bandingkan menjamurnya makanan siap saji yang ada di
pinggir jalan. Banyak zat-zat sampah yang tidak dibutuhkan tubuh dan bahkan
berbahaya bagi tubuh dinikmati oleh pecinta gaya hidup instan. lemak transfat, natrium yang tinggi, pemanis
buatan, menyebabkan melonjaknya angka penderita diabetes mellitus,
kardiovaskuler dan stroke. inilah dampak panjang yang dihadapi dari krisisnya
pangan.
Selain pangan, air bersih adalah faktor
penting dalam menjamin keberlangsungan kehidupan manusia. Sayangnya, banyak
mata air yang kita miliki, akan tetapi sejatinya dikuasai oleh pihak asing.
Mahalnya harga air bersih, yakni setengah dari harga bensin membuat banyak
masyarakat mengkonsumsi air tidak layak minum. Air yang sudah tercemar limbah
pabrik, limbah rumah tangga, dan sampah. padahal air adalah sumber utama
pencemaran penyakit infeksi.
Mahalnya ongkos sakit
Banyak
orang mengabaikan kesehatan. Masalah kesehatan ibarat masalah belakangan.
Bahkan orang seringkali kalap ketika sehat, semua makanan yang enak di lidah
masuk ke dalam mulut tapi enggan untuk olahraga. Masalah yang dianggap cuek
oleh sebagian orang, tetapi saat sakitnya datang barulah mulai terasa
penderitaanya. Mulai menyadari adanya masalah yang datang. Ibarat bisul di
pantat yang menunggu waktu pecah, tidak terlihat tapi susah untuk duduk, terasa
hangat namun perih bahkan tidak enak untuk tidur. Disaat sakit, masyarakat kita
harus mengeluarkan uang sendiri untuk membayar pengobatan. Sistem ini disebut
pembayaran “out of pocket”. Dari laporan World Health
Organization tahun 2006 70% masyarakat Indonesia masih bergantung pada tradisi
sistem Out of Pocket, dan
hanya 8,4% yang dapat mengikuti sistem pembayaran prabayar/asuransi (WHO:
2009).
Tidak
ada yang salah dengan sistem ini memang, selama si sakit sanggup membayar untuk
biayanya, dan dokter mau jujur juga berkompeten untuk memberikan pelayanan
sesuai kebutuhan pasien. Namun kenyataannya tidak selalu seperti itu, sering
sekali pihak pasien, yang dalam hal ini adalah pihak yang kurang tahu tentang
permasalahannya sendiri, tidak tahu sakitnya apa, bagaimana pengobatannya,
butuh biaya berapa dan sebagainya. Sehingga pengeluaran menjadi membengak. Beda
dokter beda diagnosa, beda pula obatnya. Lempar sana lempar sini menjadikan
pasien sebagai pihak yang dirugikan.
Ánehnya lagi, dari seluruh uang yang dia
keluarkan, seluruh rumah sakit yang ia kunjungi, ia tidak pernah tahu
apa diagnosa yang ditegakkan untuknya. Terhitung 2014, ada biaya gratis bagi si
miskin melalui BPJS. Sudah menjadi tradisi dalam sistem kesehatan kita banyak warga yang menjelma dirinya miskin
saat membutuhkan pelayanan kesehatan, padahal sehari-harinya mereka memiliki
barang mewah di rumah bahkan ada yang mampu memiliki motor bahkan mobil tetapi
mengaku dirinya miskin saat berobat ke RS.
Tidak
sedikit masyarakat kita awalnya cukup mampu untuk menghidupi diri dan
keluarganya dari pekerjaan serabutan, akhirnya jatuh sakit dan menjadi miskin
karena seluruh hartanya habis untuk biaya berobat. Sakitnya kemudian tidak
kunjung sembuh, malah bertambah parah, utang disana sini, tidak bisa bekerja,
dan terus sengsara. Jika si miskin sakit itu artinya semua keluarga sakit. Satu
keluarga menunggu pasien sakit di rumah sakit. Keluarga pun ikutan ‘sakit’
ekonominya dan kehidupannya. Sudah jatuh tetimpa tangga, tangganya pun rusak
padahal milik tetangga. Dan harus mengganti rugi pula.
Perilaku
ini sudah menjadi tradisi. Bagaimana jika sistem pra bayar kesehatan dalam hal
ini BPJS yang menggratiskan kesehatan saat sakit mulai diberlakukan secara
total. Bukan hal yang tidak mungkin masyarakat kita menganggap remeh perkara
sakit dan terlena dengan kesehatan jika usaha-usaha preventif dan kesadaran
akan kesehatan tidak digalakkan oleh pemerintah.
Dokter malpraktik
Masyarakat dengan mudah
sekali menyalahkan dokter atau pihak rumah sakit jika mereka tidka puas dengan
jasanya. Tidak bisa disalahkan dan dibenarkan sepenuhnya. Tapi tidak ingatkah
bahwa kita adalah manusia dan jumlah sarana prsarana memiliki keterbatasan. Di
inggris, setiap pasien berhak mendapat pelayanan dokter minimal 15 menit. Saat
ini dokter puskesmas bahkan melakukan pemeriksaan hanya sekitar lima menit atau
kurang. Apakah ini kesalahan dokter? Tidak juga karena pasien lain sudah
mengantre bahkan membludak. Sangat jauh dari kata ideal. Ditambah lagi dengan
sistem BPJS dimana jika ada orang sakit wajib berkunjung ke puskesmas sebagai
pelayanan primer. Tentu menambah membludaknya angka kunjungan pasien ke
puskesmas. Sarana boleh ditingkatkan tetapi sumber daya manusianya tetap
segitu. Tidak dipungkiri masih butuh banyak dokter yang merata persebarannya di
negeri ini. Tapi kita lihat betapa masyarakat saat ini sudah sangat hati-hati
dengan dokter. Salah sedikit menuntut. Setiap tahun fakultas kedokteran di
Indoensia melahirkan ribuan dokter-dokter baru. Akan tetapi, 35% dari mahasiswa
kedokteran tersebut belum lulus mengkuti ujian kompetensi dokter Indonesia.
Mengapa banyak dokter yang tidak kompeten?. Karena ternyata akreditasi untuk
kedokteran hanya ada 32 dari 72 fakultas kedokteran yang terakreditasi di atas
standar. Masih ada 40 FK yang terkareditasi C (di bawah standar) dan ironisnya
ada 8 FK yang belum terakreditasi (BAN-PT, Kemdiknas). Laju pertumbuhan
penduduk terus meningkat, tetapi jumlah dokter cenderung tetap setiap tahunnya.
Jika pemerintah mau meningkatkan kesehtaan Indonesia. Ini adalah poin penting
dimana pendidikan dokter juga sangat perlu dipikirkan untuk melahirkan lulusan
dokter yang profesional.
mental sakit orang Indonesia
Perilaku konsumtif dan merasa miskin kini
menjadi watak masyarakat kita. Berapa banyak masyarkat kita yang sehari-harinya
bergelimang harta tetapi mengaku miskin seketika saat sakit. Padahal masih
banyak masyarakat yang benar-benar miskin tetapi belum mendapat bantuan.
Masyarakat tidak menyadari bahwa sebenarnya kesehatan kini dalam hidup serba
keterbatasan, semua dibatasi. Ingin sedikit berkualitas tetapi pemerintah tidak
menanggung. Sistem jaminan memang membuat biaya kesehatan murah tetapi jadi
murahan pada akhirnya jika tidak ada persiapan matang dan sumber daya yang
belum siap. Mudahnya akses untuk mendapatkan kesehatan ternyata tidak sejalan
dengan naluri seorang dokter. Betapa para tenaga medis ini ternyata harus
ekstra berhemat untuk melayani pasien. harga satu penyakit sudah dipatok,
bagaimana jika pasien mengalami keluhan lain dan membutuhkan obat yang berbeda
jika biaya dari pemerintah ternyata tidak mencukupi. Aturan yang berlaku,
pasien tidak boleh melakukan kunjungan dua kali dalam sehari kepada dokter
spesialis. Bagaimana dengan pasien yang memiliki komplikasi penyakit dan
membutuhkan konsultasi spesialis lain. Butuh waktu dua hari untuk
berkonsultasi. Tentu memakan biaya, waktu dan tenaga yang dua kali lipat bagi
sang pasien yang tergolek sakit. Masih banyak obat yang tidak ditanggung atau
peralatan-peralatan untuk bedah yang disediakan hanya kualitas pas-pasan. Karena dana yang dicakup tidak memenuhi
sesuai kaidah kedokteran pada umumnya. Kejadian nyata pasien pasca operasi RS.
Dr. Soetomo 2014, pasien harus dilakukan operasi, tetapi biaya dari pemerintah
sangat pas-pasan. Alhasil sang dokter harus berhemat benang jahit agar tidak
melebihi biaya yang seharusnya. Pasca operasi pasien harus menanggung rasa
sakit karena obat analgesik atau obat penghilang rasa nyeri saja tidak dijamin
oleh pemerintah saat itu. Belum lagi administrasi yang rumit. Pasien yang harus
segera dioperasi harus menunggu adminitrasi online yang terkadang servernya
lambat. Apakah ini tanggung jawab dokter untuk menunggu adminitrasi. Dan jika
terlambat penanganan apakah ini juga salah dokter. Tetapi pasien hanya bisa
menuntut dokter. Terlebih di kabinet yang akan datang akan memberlakukan pidana
bagi pihak yang menolak pasien. saya sangat setuju. Pasal 32 dan Pasal 190 UU
Kesehatan mengatur, RS atau tenaga kesehatan yang menolak melayani pasien
dipidana penjara maksimal dua tahun dan denda paling banyak Rp 200 juta. Jika
penolakan itu menyebabkan kematian pasien, maka RS atau tenaga kesehatan
dipidana penjara maksimal 10 tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar. Akan
tetapi, tidak semua rumah sakit ikut serta dalam program pemerintah. Berapa
banyak kerugian yang harus rumah sakit tanggung karena dana dari pemerintah
tidak menutupi? Bahkan ada beberapa rumah sakit yang biaya operasionalnya belum
dibayar oleh pemeirntah. Karena Pasien tidak boleh ditolak. Tetapi apa dikata
jika jumlah kasur sudah tidak tesedia bahkan lorong-lorong penuh dengan pasien
dan keluarganya.
Belum lagi beban
perawat dan dokter yang harus ekstra tenaga melyananinya. Jumlah pasien
membludak, tetapi tenaga medis tetap jumlahnya. Semua ingin segera dilayani.
Tanggung jawabnya semakin bertambah tapi dokter masih saja terus disalahkan
atau dianggap sebelah mata. Jika pasien tidak mendapatkan pelayanan yang diinginkan.
Siapa yang disalahakan? Dokter dan pihak rumah sakit. Sebenarnya dunia
kesehatan kita masih menganut ketidakadilan. Adanya sistem kelas atau
membedakan qualitas pelayanan berdasarkan kesanggupan untuk membayar yang masih
diberlakukan di setiap rumah sakit sampai saat ini. Sesunggguhnya ini sangat
bertentangan dengan hak asasi manusia karena Seharusnya setiap orang yang sakit
mendapat layanan yang sama, tidak dibedakan. Tetapi nyatanya da pembagian
kelas-kelas dalam peraturannya. Si kaya bisa mendapatkan pelayanan kelas mewah
dengan tempat tidur yang tenang, bersih,
perawat yang siaga karena punya banyak uang dan si miskin dapet seadanya.
Saat ini pemerintah
baru mengalokasikan anggaran kesehatan sebesar tiga persen (Rp 46,459 triliun)
dari total anggaran belanja pemerintah (Rp 1.249,943 triliun). Dan ternyata
anggaran ini kalah dengan negara-negara berkategori penghasilan rendah di
Afrika, seperti Rwanda, Tanzania, dan Liberia, yang berani mengalokasikan dana
untuk sektor kesehatan hingga 15% dari APBN-nya. WHO sendiri mematok alokasi
anggaran kesehatan setiap negara minimal 15% dari total APBN. UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
sudah tegas mengamanatkan bahwa minimal alokasi anggaran kesehatan 5% dari APBN
(WHO, 2010). Inilah salah satu upaya janji kabinet jokowi mendatang dengan
meningkatkan anggaran kesehatan menjadi lima persen sehingga akan membutuhkan
penambahan anggaran sebanyak Rp 40 triliun. Kalau sudah begini, siapa yang
salah? Dalam kontek ini tidak ada yang salah, karena sistem ini kita sendiri
yang membuatnya. Yang salah adalah ketika kita tidak mau merubahnya kearah yang
lebih baik.
Masyarakat sadar kesehatan
Permasalahan demografi
yang mungkin akan melanda seperti bonus demografi pada Indonesia tentunya akan
muncul, terutama masalah kesehatan yang telah disebutkan. Penyakit degenerative
tentunya akan banyak muncul bahkan melanda kaum muda. Untuk itu di dunia yang
serba gadget ini, olahraga dan gaya hidup sehat harus menjadi trend anak muda.
Anak muda yang hiudpnya suka dipamerkan, maka pamerkanlah gaya hidup sehat. Lingkungan
kita harus turut mendukung gaya hidup sehat, misal pemilihan duta sehat anak
muda, lomba sehat, dan terutama untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat,
maka pembuatan iklan-iklan yang mengajak pada kesehatan tubuh dan kesehatan
lingkungan harus lebih digalakkan. Pemerintah dapat turun serta untuk
menggulangi masalah kesehatan dengan e-government, edukasi dengan online, serta
memanfaatkan kreativitas anak muda dalam membuat aplikasi edukatif seperti meme
comic, dan sebagainya. Iklan rumah sehat, permainan sehat, lingkungan sehat
juga bisa jadi merupakan kampanye efektif dalam mengantisipasi perubahan pola
kesehatan masyarakat akibat perubahan struktur demografi Indonesia.
Pemerintah pro kesehatan
Peran pemerintah adalah tokoh utama
dalam penerapan kebijakan tentang kesehatan. Pemerintah dalam posisi legal
berwenang dalam menentukan kebijakan mengenai kesehatan terutama kesehatan
lingkungan. Kampanye mengenai gaya hidup tentunya akan lebih efektif dan
memiliki legal khusu bila hala ini didukung sepenuhnya oleh pemerintah terutama
dalam fungsi penerapan standar kesehatan dan fungsi anggaran. Pembatasan barang
impor yang mungkin akan merusak kesehatan juga dapat terkondisikan dengan baik
apabila pemerintah secara tegas mentukan batasan dan standar, serta audit
barang yang masuk untuk dikonsumsi penduduk Indonesia.
Indonesia baru saja melakukan
penggantian pemain-pemain senayan untuk menempati singgasana. Hanya menunggu
pembuktian apakah mereka sosok negarawan seperti yang diucapkan atau politisi
yang berlindung di balik kosmetik pencitraan. Indonesia hari ini mengalami
krisis negarawan diantara berkilaunya politisi instan. Pemimpin
politisi menyelesaikan masalah bangsa ini berorientasi jangka pendek, mempertimbangkan
keuntungan untuk para pemilik modal dan kelompoknya, khususnya partai ketimbang
masyarakat. Plato pernah mengingatkan kita, masalah suatu negara tidak akan
pernah berdamai dengan masyarakatnya hingga kekuasaan politik ada pada
negarawan sejati. Meskipun kita masih memiliki sosok seorang tokoh yang
memiliki jiwa negarawan, namun sistem politik hari ini belum berpihak
sepenuhnya dengan mereka. Sampai kapan pun republik ini tetap akan terperangkap dalam lingkaran
masalah yang tiada berujung, sepanjang partai politik di negara ini masih gagal
menghasilkan negarawan sejati untuk memimpin. Perbedaan
mendasar antara negarawan dengan politisi adalah jika negarawan hidup untuk
negara, maka politisi negara untuk hidupnya. Janji sudah terlanjur diucapkan.
Entah dengan atau tanpa perhitungan. Jangan lagi rakyat yang harus menanggung
penderitaan. Lantaran janji yang akan diabaikan. Jika benar begitu apa bedanya
kepemimpinan dengan pengkhianatan?
Para wakil
rakyat ini bak supir bus kota yang kita pilih untuk membawa kita ke arah yang
kita tuju. Setiap penumpang pasti ingin mencapai tujuan yang diinginkan dengan
kondisi selamat dan ongkos yang semestinya sehingga menjadi hak kita untuk
menegur sang supir supaya memilih jalan yang lebih bijak.
Kesehatan melalui Kemandirian
pangan, air, dan lingkungan adalah hal pokok yang harus diselesaikan untuk
kebutuhan mendatang. Jika kemandirian pangan, air, dan lingkungan dapat
terwujud, maka bukan hanya menyelesaikan permasalahan hari ini akan tetapi juga
membangun kekuatan dan kemajuan bangsa di masa yang akan datang.
_lomba Essai Bonus Demografi_
_lomba Essai Bonus Demografi_
Semua Bisa Jadi Pahlawan -Pahlawan Negeri, Pahlawan Bumi
Pengertian pahlawan dalam arti sempit adalah
siapa saja yang menjadi pembela kepentingan seseorang itulah dia, terlepas
bentuk kepentingan apa saja, tidak perlu lihat halal haram lagi (Muadz, 2014). Bagi
seorang yang sedang sakau
maka pahlawan bagi mereka adalah para pemasok dan pengedar narkoba. Bagi
seorang pemabuk, maka boss yang mentraktir minuman itulah yang jadi pahlawan.
Bagi orang-orang miskin maka orang semodel Robin Hood itu juga bisa manjadi
pahlawan. Bagi para mucikari/germo, juga pengusaha diskotik, maka para pem-backing yang
biasanya terdiri dari aparat itu sebagai pahlawan. Seorang pemuda yang
menampung uneg-uneg seorang gadis ketika terjadi masalah keluarga, sehingga
sang gadis bertambah dendam terhadap orang tuanya dan semakin sejuk dengan sang
pemuda, itu bisa dianggap pahlawan bagi si gadis (lihat status-status di BBM.
Ukuran berjasa, membantu dan menolong
menurut kepentingan perorangan, kelompok, suku, sampai pada bangsa dan negara,
bisa dipastikan akan menemukan hasil yang relatif. Sehingga harus ada standar
yang universal. Sementara standar universal itu biasanya dikaitkan dengan
nilai-nilai kemanusiaan. Lagi-lagi jika pendangan kemanusiaan itu menurut
pribadi, kelompok dan golongan pasti akan berbeda lagi. Sehingga tidak akan
pernah menemukan kebenaran yang hakiki dalam memandang nilai kemanusiaan.
“Pahlawan”
menurut Bahasa adalah sebuah kata benda. Secara etimologi kata “pahlawan”
berasal dari bahasa Sanskerta “phala”, yang bermakna hasil atau buah. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yang menonjol karena
keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, pejuang yang gagah
berani. Pahlawan adalah seseorang yang berpahala yang perbuatannya berhasil
bagi kepentingan orang banyak. Perbuatannya memiliki pengaruh terhadap tingkah
laku orang lain, karena dinilai mulia dan bermanfaat bagi kepentingan
masyarakat bangsa atau umat manusia.
Berdasarkan pengertian tersebut, semua orang
dapat menjadi pahlawan asalkan dia berguna bagi manusia lainnya. Sebagimana
agama yang saya yakini yaitu Islam, Islam mengajarkan kita untuk bermanfaat
bagi sesama. Bahkan dalam firmannya disebutkan bahwa sebaik-baik manusia adalah
yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Dalam beberpa kisah inspiratif, bahkan
orang cacata sekalipun dapat bermanfaat bagi yang lainnya. Bob Willen, seorang
yang cacat tidak memiliki kaki namun mampu menyelesaikan lari marathon demi
untuk memberikan charity bagi yang lainnya. Keinginan Bob Willen untuk menolong orang lain melalui
jalur militer harus kandas karena menginjak ranjau pada saat bertugas di koflik
Vietnam. Hal tersebut berimbas pada kehitangan kedua kaki hingga ke pangkal
paha. Hal tersebut tidak menjadikan Bob patah semangat. Ia justru semakin besar
hatinya. Keinginannya untuk membantu orang lain tidak pernah surut.
Orang cacat saja punya naluri kepahlawanan.
Bagaimana dengan kita? Harusnya sebagai makhluk sosial naluri kepahlawanan itu
ada. Pengusaha yang paling kapitalis sekalipun masih memeberikan charity untuk
lembaga sosial. Terlepas dari tujuan pakah untuk mengurangi pajak atau karena
memang berkeinginan untuk kemanusiaan.
Masing- masing orang meiliki kemampuan untuk
bermanfaat bagi yang lainnya. Terlepas dari apapun pekerjaan atau perannya.
Serorang petani dapat menjadi pahklawan dengan pasokan pangan dan sayuran yang
dihasilkan. Seorang intelektual atau akademisi seharusnya mampu memberikan
kontribusi bagi lingkungan sekitarnya dengan ilmu yang dimiliki. Seorang musisi
dapat menjadi pahlawan dengan mengibur orang-orang sengan lagu dan music yang
diciptakan atau dilantunkan.
Pahlawan
bukan untuk dikagumi, tapi diteladani (Matta, 2004). Pekerjaan-pekerjaan
besar dalam sejarah hanya
dapat diselesaikan oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Tantangan-tantangan besar
|
dalam sejarah hanya dapat dijawab oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Itulah sebabnya kita menyebut para pahlawan itu orang-orang
besar. Itu pula sebabnya
mengapa kita dengan sukarela
menyimpan dan memelihara rasa kagum kepada
para pahlawan. Manusia berhutang budi kepada para pahlawan mereka. Dan kekaguman
adalah sebagian dari cara mereka membalas utang budi.
Mungkin, karena itu pula
para
pahlawan
selalu muncul di saat-saat yang sulit,
atau sengaja dilahirkan di
tengah situasi yang sulit. Mereka datang untuk mem-
bawa beban yang tak dipikul oleh manusia manusia
di zamannya. Mereka bukanlah kiriman
gratis dari langit.
Akan tetapi, sejarah kepahlawanan mulai dicatat
ketika naluri kepahlawanan mereka
merespon tantangan- tantangan kehidupan yang berat. Ada tantangan
dan ada jawaban.
Dan hasil dari respon itu adalah lahirnya
pekerjaan-pekerjaan besar.
Isu yang paling in saat ini
adalah isu lingkungan. Semakin lama bumi ini semakin padat penduduk. Tantangan
bonus demografi Indonesia, baby booming, krisis pangan, krisis tempat tinggal,
krisis sumber daya dan sumber daya air menjadi masalah yang tak dapat
dipisahkan dari pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat. Pakar-pakar
lingkungan semakin dibutuhkan. Tidak
hanya akademisi yang mampu berpikir dan membuat planning, tapi juga praktisi
yang mempu mengusahakan berkelanjutan lingkungan untuk anak cucu kita nanti.
Meminjam perkataan Buya Hamka bahwa kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek
moyang kita, tapi meminjam dari anak cucu kita.
Pahlawan lingkungan semakin dibutuhkan. Bagaimana mengatasi
perubahan iklim yang kini sudah mulai terjadi dan mengatasi berbagai krisi
lainnya di dalammya. Kita tidak dapat memungkiri bahwa kita tinggal di bumi.
Maka kita tidak punya alasan untuk tidak peduli pada bumi kita. Dunia
internasioanal sudah mulai resah dengan keadaan bumi ini. Untuk itu
ditetapkanlah Sustainable development Goals yang ditetapkan pada konferensi
Rio.
Salah
satu hasil utama dari Rio + 20 Konferensi adalah perjanjian oleh negara-negara
anggota untuk memulai proses untuk mengembangkan satu set Development Goals
Berkelanjutan (SDGs), yang akan membangun di atas Millenium Development Goals
dan menyatu dengan agenda pembangunan pasca 2015. Pada konferensi ini
ditetapkan bahwa "Proses inklusif dan transparan antar pemerintah terbuka
untuk semua pemangku kepentingan, dengan maksud untuk mengembangkan tujuan
pembangunan berkelanjutan global yang akan disepakati oleh Majelis Umum".
Adapun
Tujuan dari SDGs antara lain,
Tujuan 1
Menuntaskan kemiskinan dalam segala bentuknya di mana-mana
Tujuan 2
Menuntaskan masalah kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan peningkatan gizi,
dan mempromosikan pertanian berkelanjutan
Tujuan 3
Memastikan kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan untuk semua pada
segala usia
Tujuan 4.
Pastikan kualitas pendidikan inklusif dan adil dan mempromosikan kesempatan
belajar seumur hidup untuk semua
Tujuan 5
Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan
Tujuan 6
Memastikan ketersediaan dan pengelolaan yang berkelanjutan dari air dan
sanitasi untuk semua
Tujuan 7
Memastikan akses ke energi yang terjangkau, dapat diandalkan, berkelanjutan,
dan modern untuk semua
Tujuan 8
Promosikan berkelanjutan, pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan ekonomi,
pekerjaan penuh dan produktif dan pekerjaan yang layak untuk semua
Tujuan 9.
Membangun infrastruktur tangguh, mempromosikan industrialisasi inklusif dan
berkelanjutan dan mendorong inovasi
Tujuan 10
Mengurangi ketidaksetaraan dalam dan di antara negara-negara
Tujuan
11. Membuat kota dan pemukiman manusia yang inklusif, aman, tangguh dan
berkelanjutan
Tujuan
12. Pastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan
Tujuan
13. Mengambil tindakan segera untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya *
Sebagai
Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) yang akan berakhir masa berlakunya, proses
pembentukan goals lanjutan pasca-2015
dilakukan untuk mendapatkan lebih banyak dan lebih tepat sasaran. Untuk periode
15 tahun kedepan, Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) akan menjadi alat
utama untuk mencapai keberlanjutan di seluruh dunia melalui menangani dan
menggabungkan tiga pilar pembangunan berkelanjutan keterkaitan (ekonomi, sosial
dan lingkungan) dan mereka.
Untuk
mendukung pengembangan SDGs, tiga ringkasan kebijakan baru telah dikembangkan
oleh UNU Institute untuk Studi Lanjutan Keberlanjutan (UNU-IAS), Proyek
Post2015 dan Proyek Pemerintahan Sistem Bumi. Ringkasan kebijakan ini bertujuan
untuk menyediakan Kelompok Kerja Terbuka (OWG) untuk Pembangunan Berkelanjutan
dengan wawasan tentang bagaimana merumuskan terbaik dan menerapkan Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Catatan
Kebijakan # 1, 'Earth Sistem Tantangan dan Pendekatan Multi-berlapis untuk
Development Goals Berkelanjutan' berpendapat untuk pentingnya menyadari bahwa mencapai
keberlanjutan tidak hanya membutuhkan memerangi kemiskinan dan lain ancaman
terhadap kesejahteraan manusia, tetapi juga konsumsi yang berlebihan dan gaya
hidup yang tidak berkelanjutan dalam masyarakat kaya. Ini menunjukkan
pendekatan multi-layered dengan SDG target dibingkai dalam istilah global
tetapi juga disesuaikan dengan konteks sub-global ketika diperlukan.
Catatan
Kebijakan # 2, 'Menghubungkan Pendidikan dan Air di Development Goals
Berkelanjutan' adalah sebuah aplikasi Kebijakan Brief # 1, di mana ia
berpendapat bahwa pendidikan sangat terkait kemajuan potensial pada tantangan
keberlanjutan yang berhubungan dengan air.
Catatan
Kebijakan # 3, "Mengintegrasikan Governance ke dalam Sustainable
Development Goals ', mengambil tempat Policy Brief # 1, menggali lebih dalam
pertanyaan tentang bagaimana mengintegrasikan bukan hanya pemerintahan, tetapi
semua aspek itu: baik, efektif dan tata kelola yang adil . Membuat tujuan yang
berdiri sendiri pada tata kelola berpendapat untuk memberikan kesempatan yang
lebih baik untuk mengambil semua tiga aspek pemerintahan ke rekening, tetapi
juga risiko bahwa upaya untuk mencapai 'baik' governance menaungi dua lainnya.
Mengintegrasikan pemerintahan ke semua SDGs-isu tertentu sebaliknya, memberikan
skenario terbalik; mungkin membuka ruang bagi terciptanya target baik
disesuaikan yang memajukan aspek-aspek tertentu dari pemerintahan, namun
kemajuan tersebut akan kurang lengkap.
Catatan
Kebijakan # 1 dan # 3 batang dari Lokakarya Internasional tentang Pemerintahan
dan Pembangunan Berkelanjutan Tujuan. Lokakarya ini dihadiri ulama dan praktisi
internasional dengan keahlian pada tata kelola lingkungan global untuk membahas
pertanyaan-pertanyaan kunci yang berkaitan dengan tata kelola, dan untuk,
agenda pembangunan pasca-2015.
Catatan
kebijakan secara resmi dirilis pada forum kebijakan: 'Governance', 'Pendidikan'
dan Arsitektur dari Development Goals Berkelanjutan, diselenggarakan 22 Mei
2014, di New York dan co-diselenggarakan oleh UNU-IAS dan Proyek POST2015 (diselenggarakan
oleh Tokyo Institute of Technology). Upaya ini telah unik dalam fokus pada tata
kelola dan untuk SDGs, dan memberikan wawasan penting dan kompleks dengan
pertanyaan apa, dan bagaimana untuk melanjutkan.
Rumusan tersebut merupakan sebuah usaha yang
ditempuh oleh petinggi petinggi negara di dunia karena keresahan dan
kehawatiran terhadap keberlanjutan bangsa ini. Sebagai generasi muda yang nanti
akan memikul tampuk tanggungjawab, apa kita harus diam saja? Tentu tidak.
Langkah konkret yang harus dilakukan adalah take action. Tidak hanya demo
sana-sini membuat kerusuhan, mengkrtisi pemerintahan, namun dirinya tidak mampu
memberi soslusi. Omong kosong. Lebih baik kita simpan saja energy kita untuk
memikirkan dan emnciptakan sesuatu yang berguna untuk bangsa ini.
Seorang pahalawan tidak pernah memikirkan
dirinya kan muncul dalam sejarah atau tidak. Tapi seorang pemimpin muncuyl
karena tuntutan keterbatasan dan ketertidasan. Seorang pemimpin muncul sebgai
solusi permasalahan. Membawa pencerahan bagi sesama. Begitu pula untuk bumi
yang harus kita jaga dan kita lestarikan.
Sebagai penutup saya akan menuliskan satu
bait puisi karya Chairil Anwar
Kami sudah coba apa yang kami bisa Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang
berserakan
Pusi tersebut mengandung arti bawa meski
kita sudah berjuang berdarah-darah, perjuangan kita belum selesai. Masih banyak
tugas yang harus kita selsesaikan dalam mengemban amanah sebagai khalifah di
muka bumi ini, karena kewajiban kita lebih besar dari kemampuan yang kita
miliki.
Teruslah semangat pemimpin muda!
Miliki naluri pahlawan dalam hati!
Jadilah pahlawan untuk negeri dan untuk bumi
pertiwi!
Referensi :
Indonesia National Workshop On Sustainable Development Goals, 2014, Kementerian Koordinator Bidang kesejahteraan Rakyat
Republik Indonesia.
Matta, Anis. 2004. Mencari Pahlawan Indonesia. The Tarbawi Center
Muadz, Abdullah. 7 november 2014 http://depoklik.com/opini-siapa-pahlawan-siapa-penjahat/
30 november 2014 jam 13.00
November 2014- latepost
Langganan:
Postingan (Atom)