Minggu, 27 Juli 2014

How to be wonderful women student of Geography


Sore yang cerah di kampung halamanku, Desa Sengon, Jombang.


Sore ini tiba-tiba saja punya hasrat untuk menuliskan ini setelah sekian lama menunda. Well, sebenarnya ini permintaan teman saya yang (katanya) peduli dengan adik-adik mahasiswa baru Geografi J. Okey, berbicara tentang mahasiswa Geografi. Sebenarnya apa sih yang unik dari mahasiswa geografi itu sendiri? Kata bapak-ibu dosen yaa.. mahasiswa Geografi itu cara berpikirnya spasial atau menyeluruh gitu. Gimana ya model berpikir spasial itu? Nanti dah.. dijelaskan di kuliah. Panjang kalau dijelaskan di blog ini J. Well, spesifik ke “mahasiswi” atau mahasiswa jenis kelamin perempuan di Geografi. Sebelum kita berbicara tentang karakter mahasiswi Geografi, kita bicara tentang sejarah terlebih dahulu. Ceritanya, dulu Geografi sama seperti teknik, yakni didominasi oleh laki-laki. Jumlah mahasiswi sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mahasiswa. Hanya 5 tahun terakhir, populasi perempuan di Geografi meningkat lebih dari 50% dari seluruh jumlah mahasiswa keseluruhan. Di tahun angkatan saya saja (2012), populasi perempuan mencapai 68%. Dua banding satu dibandingkan populasi laki-laki. Nah, ceritanya nih para dosen khawatir “waah.. bisa tidak yaa mahasiswi-mahasiswi ini bertahan dengan konsekuensi kualitas Geografi sendiri tidak menurun?” Makanya ada karakter khusus yang harus dimiliki mahasiswi Geografi itu sendiri.

Pertama, mahasiswi Geografi itu harus tangguh, tidak boleh manja. For your information, Geografi itu banyak kegiatan lapangannya, baik praktikum lapangan maupun kuliah kerja lapangan. Belum lagi ditambah survey, pengukuran, dan lainnya. Lha kalau kita manja, aleman, suka menggantungkan diri ke orang lain, waah.. harus diubah tuh. Tidak selamanya kita kerja bareng sama laki-laki. Tidak jarang alat yang harus kita bawa berukuran besar dan berat. Belum lagi bentuk medannya. Iya kalau medannya itu enak dan datar. Kalau tidak? Yaah.. seperti yang saya tulis kalau geografi itu cara berpikir dan cara kerjanya spasial, menyeluruh. Medan yang akan kita lalui juga dari yang datar, terjal, sampai curam banget.

Kedua, mahasiswi Geografi itu harus kuat, tidak boleh gampang sakit. Geografi itu banyak praktikumnya. Kalau kita absen kuliah, kalau tidak banyak absennya (ada minimal jumlah presensi cuy..) paling konsekuensi tidak dapat materi, tapi kalau tidak datang praktikum.. sudah kelinggalan, harus inhal, bayar pula inhalnya. Bayarnya tidak murah di Geografi. Sekali inhal bayarnya 50.000 rupiah. Tinggal dikalikan saja berapa kali kita tidak masuk. Karena itu, kita harus kuat dan sehat. Rajin olahraga, minimal senam ringan tiap pagi atau kalau bisa jogging satu minggu dua kali. Ini juga menjaga porsi tubuh kita juga loh. Kebanyakan mahasiswa mengalami obesitas ringan atau bahasa halusnya berat badan bertambah dan bentuk tubuh tak indah ketika masih dalam masa kuliah. Ini juga disebabkan kurang olahraga. Satu lagi  kelebihan olahraga teratur adalah kita tidak mudah mengantuk dan tidak mudah capek ketika kuliah. Olahraga itu gratis kok, kesehatan itu sangat mahal harganya, makanya harus dijaga.

Ketiga, kemampuan berkomunikasi yang baik. Geografi itu tidak semata-mata mempelajari aspek fisik, tetapi juga mempelajari aspek manusia seperti sosial, ekonomi, dan kependudukan. Meskipun fokus kajian yang kita pilih adalah aspek fisik, kita juga butuh kemampuan komunikasi untuk mendapatkan data yang lebih lengkap. Lantas, buat yang dasarnya pendiam atau pemalu bagaimana? Jangan khawatir.. ini bisa dilatih kok. Asal kita rajin saja melatihnya. Bisa dimulai dari ikut organisasi, kepanitiaan, atau sekedar membiasakan srawung yang intens dengan tetangga kiri-kanan.

Penjelasan diatas mungkin sedikit menimbulkan kesan bahwa mahasiswi Geografi harus tomboy yaa. Ah.. tidak juga. Mahasiswi geografi itu memang harus kuat secara fisiknya. Tapi jangan dilupakan bahwa kita tetap wanita dengan segala kelembutannya. Hal ini tetap harus kita miliki. Saya sendiri juga muslimah dengan kewajiban harus menutup aurat seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Saya terbiasa memakai rok di segala kesempatan dan selalu memakai kaus kaki, karena kaki kita juga adalah aurat. Mungkin kita berfikir, ah.. ribet, yang akhirnya melonggarkan aturan agama untuk kemudahan kita. Aturan agama memang tidak menyulitkan kita, tapi bukanlah sebuah alasan bagi kita untuk mempermudah diri dengan mengurang-kurangkan aturan. Penampilan muslimah saya, dengan rok dan lainnya, tidak meyulitkan saya untuk belajar di Geografi. Saya berhasil melaui empat semester dengan banyak kegiatan lapangan tanpa kendala. Masih aman dan selamat. Bahkan saya berhasil menaklukkan puncak Lawu, Merbabu, dan Mahameru. Untuk itu, jangan kwawatir akan berubah tidak anggun alias kelaki-lakian kalau sudah kuliah di Geografi, kita tetap bisa anggun dan sukses belajar di Geografi sekaligus J.

Semua ini sedikit sharing tentang karakter mahasiwi Geografi versi saya. Belajar di Geografi itu menyenangkan. Meski sering jalan yang kita lalui tidak mudah, sering jenuh dengan banyaknya laporan dan tugas. Kita masih dapat tersenyum bahagia.

Selalu tersenyum dan Semangaaaat!!!!

Menjelang takbir berkumandang,

28-07-2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar