Rabu, 30 Desember 2015

Bisakah sepertimu?

Hari ini jam 09.03 setelah sekitar 3 tahun tidak curhat sambil nangis ke ibu. Bukan berarti bahwa saya tidak pernah menelepon ibu, bercerita pada ibu. Saya bercerita, tapi lebih kepada hal-hal yang menyenangkan dan memilih untuk meminta doa tanpa menceritakan masalahnya. Pasalnya, sejak Idul Fitri tahun 2013 lalu saya memutuskan untuk belajar mengatasi masalah saya sendiri. Waktu itu, Mas Yusuf, kakak ketiga saya mengajak saya mengobrol empat mata. Beliau bilang, “Nduk (panggilan sayang kakak saya = panggilan untuk anak perempuan), kamu tahu bahwa kunci dari sebuah keluarga adalah pada wanitanya. Ibu dari rumah tersebut?”
saya hanya diam. Beliau meneruskan, “Wanita itu harus kuat. Kuat untuk mikir dan kuat pada hatinya. Kuat mikir suaminya, kuat mikir anaknya, kuat mikir keluarganya. Orang laki-laki (suami) jika memiliki masalah di luar, di lingkungan kerjanya, pasti yang pertama dicurhati adalah istrinya. Begitu pula dengan anak-anaknya, ada masalah di luar, teman mainnya, sekolahnya, perasaannya pribadi.. semua wanita yang menampung. Dia yang mikir. Untuk menenangkan suaminya, meski tidak selalu memberikan solusi. Setidaknya lebih kepada membuat mereka tenang dan bersemangat untuk menyelesaikan masalah mereka. Itu semua pasti dia lakukan tanpa tahu ia akan bercerita pada siapa.”
“karena itu nduk, kamu ini wanita. Sudah 19 tahun. Sudah saatnya untuk menikah. Belajar mengatasi masalahnya sendiri. Jangan terlalu sering curhat. Orangtua jangan dicurhati, tapi diminta doanya. Kalau sedang ada masalah.. buat belajar, curhatlah sama kakakmu atau kakak iparmu yang bisa ngasih solusi. Jangan kepada orangtua yang bisa jadi tidak memberi solusi, tapi malah ikutan mikir. Ibu sudah tua, jangan ditambahi beban pikirannya. Sebisa mungkin selalu senangkan hatinya.
Nanti kalau sudah berumah tangga, kamu sudah terbiasa mengatasi masalahmu sendiri dan insya Allah mengatasi masalah suami dan anak-anakmu pun akan lebih mudah. Masmu ini sudah berpengalaman nduk.. dulu ketika yang tak ceritakan masalah.. terus. Justru bukan solusi yang masmu dapat, tapi justru keadaan tidak berubah. Kerena masmu sadar bahwa cerita tentang masalah mas justru malah membebani orangtua. Belakangan masmu jadi lebih baik yaa karena doa nduk.. Ndak ada lagi tuh cerita masalah dan keluhan. Yang ada hanya cerita bahagia dan doa. Coba sekarang lihat.. orangtua akan terstimulasi untuk mendoakan yang baik-baik kalau kita cerita yang baik-baik. Begitu juga kalau kita menceritakan keluhan, bukan mendoakan jelek, tapi beliau pasti jadi mikir bahwa anaknya punya masalah. Bisa jadi karena kita menyusahkan pikiran mereka, itu menghalangi doa-doa baik yang mengalir pada kita.
Masmu ndak pengen kamu terlambat menyadarinya. Jangan kayak masmu. Ya? Belajar mengatasi masalahnya sendiri.
Rumah tangga itu adalah kerajaanmu sendiri. Kamu ratunya. Kamu yang mengatur, kamu yang membawa apakah keluarga itu akan bahagia, tenteram, atau tidak. Yaa.. sepandai-pandainya wanitanya. Bukan laki-lakinya. Mereka jadi bagus dalam memimpin keluarga, bagus dalam kerjaannya, ya karena dukungan wanitanya. Laki-laki itu nggak mungkin bisa mikir sendiri. Pasti butuh seseorang yang mendukung. Seseorang selalu tersenyum di belakangnya, bersedia menjadi air yang menenangkan baginya. Tempat dia kembali. Sudah ataupun senang. Maka itu, wanita harus tahan banting.
Kamu sudah gadis. Sudah bisa sir-sir-an sama laki-laki. Sebentar lagi lak yo pengen nikah to..” saya hanya tersipu.
Sejak saat itu, saya putuskan untuk sebisa mungkin mengatasi masalah-masalah saya sendiri. Tapi, saya hanyalah wanita biasa. Butuh sesorang untuk menumpahkan perasaan. Apalagi saya sangat dekat dengan ibu saya. Pagi ini disaat yang sangat sumpek  saya menelepon ibu. Mengabaikan bahwa saya tahu ibu biasa ngaji reboan di Masjid Agung. Ibu sedang di jalan ketika saya menelepon dengan suara manja. Mungkin ibu merasa ada yang tidak beres dari suara saya. Ibu yang biasanya agak keras kalau saya ganggu, kali ini memutuskan pulang dulu menerima telepon saya. Di telepon saya hanya bilang bahwa rhinitis (flu karena alergi) saya kambuh sambil menagis terisak-isak. Tanpa bercerita ibu sudah tahu bahwa saya sedang sumpek. Ibu hanya bilang, “Dzikir nduk.. cerita sama Allah. Doa sama Allah.”
“kalau ada yang mengganggu kita, padhahal kita tidak berbuat apa-apa, yaa.. ikhlaskan saja. Bacakan Al-Faatihah saja. Sama sholawat kepada Kanjeng Nabi. Insya Allah akan baik sendiri. Mohon ketentraman hati sama Allah. Manusia tidak ada yang tidak ada masalah nduk.. Semua orang pasti diuji. Jalani saja ujian hidupmu. Tetaplah taat sama Allah dan baik kepada siapapun. Semoga bisa menjadi amal sholih.”
Tiga puluh menit saya hanya menangis di telepon. Suara isak saya mulai mereda. Ibu pun berkata, “Uwes? Sudah lega? Sudah lega apa belum”
Sampun,”
Yowes. Segera berobat. Aku tak ngaji dulu yaa. Kata Bu Is telat ndak apa-apa kok. Yang penting datang.”
Nggih bu.. dungakno nggih..”
Nggih..” telepon pun ditutup. Saya merasa lebih baik sekarang.
Maafkan saya bu.. Semoga tidak membebani pikiranmu.
Betapa istimewanya seorang ibu. Tanpa bercerita pun sudah tahu masalah anaknya. Rela berkorban demi anaknya. Memberikan nasihat-nasihat yang menentramkan. Naluri sorang ibu selalu bisa merasakan perasan anaknya.
Bu.. apalah artinya diri ini tanpamu. Bu.. meski sudah besar, kami selalu membutuhkanmu. Bu.. bisakah saya sepertimu. Sekuat dirimu. Tidak hanya membesarkan satu anak, melainkan sepuluh pun kau mampu.
Bu.. bisakah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar