Rabu, 30 Desember 2015

Rizal

Waktu sudah menujukkan jam 02.00 pagi. Rizal masih berkutat dengan laptopnya. Sesekali dari mulutnya keluar senandung-senandung sholawat yang memang sering ia dendangkan saat sedang asyik. Entah mengerjakan tugas, atau sekedar main game.
“Belum tidur, Zal?” tanyaku.
“Eh, Mbak Wita. Hehe.. belum mbak. Sedang menginstal software. Lama sekali me-render-nya mbak. Mbak Wita sudah bangun?”
“Biasanya kan memang saya bangun jam segini, Zal.”
Rizal tersenyum. Aku memang sudah terbiasa bangun dini hari. Tidur lebih awal, kemudian bangun sekitar jam satu atau jam dua untuk mengerjakan tugas-tugas kantor atau sekedar baca-baca novel favoritku. Sengaja kuatur jam tidurku sedemikian karena pada jam itu biasanya anak-anak kost sudah tidur. Lebih baik dalam membantu konsentrasi. Pola hidupku memang agak aneh. Aku bisa tidur dalam keadaan gaduh sekali pun, tapi tidak bisa berkonsentrasi jika ada suara-suara yang mengganggu. Karena itu aku pilih tidur duluan kemudian bangun di pagi harinya.
Rumah ini sengaja kami sewakan per kamar untuk mahasiswa Kampus Biru. Terlalu besar kalau sekedar aku tinggali bersama bapak yang sudah sepuh. Ada sekitar tujuh orang yang tinggal di rumah ini. Semuanya laki-laki. Sengaja kami sewakan untuk laki-laki biar ndak susah menjaganya. Kata bapak menjaga anak perempuan itu susah, kalau mereka gaul bebas di luar terus mereka berzina, yang punya rumah juga punya tanggung jawab. Pasalnya kalau anak perempuan biasanya orangtua sengaja menitipkan. Beda kalau laki-laki. Mereka mau melakukan apapun, tidak ada urusan dengan yang punya rumah. Tanggung jawab masing-masing. Aku sih  manut saja apa kata bapak. Toh aku dari pagi sampai sore kerja. Sore sampai sekitar jam delapan malam setelah makan malam sama bapak, aku sudah ngantuk. Mahasiswa biasanya baru pulang setelah jam sembilan atau jam sepuluh setelah kampus tutup.  Kadang mereka membawa teman untuk belajar kelompok dan lainnya. Aku bangun sekitar jam satu. Biasanya satu per satu dari mereka sudah terlelap. Bangun-bangun sudah subuh. Mereka biasanya tidur lagi. Bangun sekitar jam tujuh atau delapan saat aku siap-siap bekerja. Ketemu paling hanya menyapa. Tidak banyak mengobrol. Yaa.. mereka sering mengobrol dengan bapakku yang sudah pensiun. Hanya satu orang yang pernah mengobril denganku sedikit lebih lama disbanding yang lain. Selain itu tidak ada yang lainnya.
Rizal. Bisa dibilang mahasiswa teknik Geologi tingkat tiga ini yang paling sholeh dibanding yang lainnya. Habis magrib sudah pulang. Biasanya langsung nderes qur’an di kamarnya. Setelah isya’an di masjid kalau tidak pergi mengerjakan tugas kelompok ya langsung masuk kamar. Belajar. Kadang-kadang juga internetan di Gazebo belakang rumah, yang memang sengaja kami bangun buat bapak bersantai sambil nyetheti burung. Tempat yang juga favorit anak-anak kost buat ngadem sambil internetan. Tidak pernah kulihat Rizal hang out bersama temannya kecuali ke pesantren Plosokuning untuk mengaji dua minggu sekali di malam Rabu. Paling-paling kalau akhir pekan, ia pulang ke rumahnya di Pekalongan.
Dari tujuh anak kost, Rizal paling sering bertemu denganku di pagi hari. Ia biasa bangun jam setengah empat, tahajud, sholat shubuh, dna tidak pernah tidur lagi setelah subuh. Kalau lagi tidak mengerjakan tugas, ia sesekali membantuku menyiram bunga-bunga atau mengobrol dengan bapak sambil memberi makan burung.
Akhir-akhir ini Rizal jarang pulang ke Pekalongan. Akhir pekan dihabiskan di kost. Tidak biasanya. Baisnya kalu tidak pulang, ya lapangan. Aku yang sebenarnya sangat jarang mengobol, suatu hari keberanikan diri untuk bertanya.
“Tidak pulang lagi, Zal.”
“Hehe..”
“Kamu ini ditanya senyam-senyum. Lagi sibuk di kampus ya? Tapi kok tidak ke Kampus?”
“Welah. Tidak mbak. Sedang ingin mandiri. Beberapa kali ini sering berpikir, mungkin sebentar lagi saya akan bekerja jauh dari rumah. Itung-itung latihan lah mbak. Sambil cari jodoh.”
“ooh.. begitu. Cari jodoh kok di rumah saja Zal. Tidak keluar-keluar seperti teman-temanmu itu.”
“Jodoh sudah ada yang ngatur mbak. Lha mbak Wita kok di rumah saja mbak?”
“Iya Zal. Hari ini jadwalnya menemani bapak Check up. Besok mungkin baru keluar sama mas Rajib.”
“Mbak Wita sudah punya pacar?” Tanya Rizal kaget.
“Sudah Zal. Sudah setahun. Kamu siih tiap minggu pulang.”
“ Lhah sudah setahun kok tidak disegerakan saja mbak?”
“Susah Zal menjelaskannya. Saya masih khawatir sama bapak kalau segera menikah, siapa nanti yang menemani bapak?”
Nduk.. Bapak sudah siap. Ayo berangkat!”
“Iya, Pak. Pergi dulu ya, Zal.”
Minggu berikutnya, Rizal menawarkan diri untuk ikut mengantar bapak kontrol.
“Biar Rizal ngerti dikit-dikit tentang kesehatan mbak. Siapa tahu nanti ketika mbak Wita tidak bisa mengantar, saya bisa menggantikan.”
Beberapa minggu kemudian, Rizal minta dicarikan kursus nyetir mobil yang bagus. Kemudian seringkali ia yang nyetir mobil ketika ikut aku dan bapak check up. Ia jadi makin sering ngobrol sama bapak. Bahkan akhir-akhir ini bapak dengan kursi rodanya ikut Rizal sholat jamaah isya dan shubuh. Dengan didirong Rizal tentunya. Sesuatu yang selama ini tidak mampu kulakukan. Rizal sering memberikanku sms nasihat yang diperolehnya dari Kyai. Membelikanku buku-buku. Dari buku doa, sampai buku Resep.
Suatu hari, Rizal tiba-tiba menghampiriku yang sedang menyiram bunga.
“Saya mau pamit mbak. Insya Allah mulai besok saya sudah magang di perminyakan. Dan sudah tidak kost lagi di sini. Doakan saya kerasan di sana ya mbak..”
“Lhoh! Mendadak sekali Zal? Sudah bilang Bapak?”
“Sudah mbak. Sebulan lalu. Ini juga minta pertimbangan bapak. Bapak.. sudah saya anggap seperti bapak saya sendiri, mbak.”
“Ooo.. ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya Zal.. Maaafkan saya dan bapak kalau kami banyak salah.”
“Sama-sama mbak.. Saya juga minta maaf kalau saya banyak ngerepotin waktu tinggal di sini.”
“ah, tidak juga Zal. Justru saya senang kamu tinggal di sini. Begitu juga bapak. Sejak sering kamu ajak Sholat jamaah ke Masjid, bapak jadi semakin sumringah.” Rizal tersenyum.
“Oiya, ini ada titipan dari ibu di pekalongan. Jilbab batik. Sepertinya cocok untuk mbak Wita.”
“Waah cantik sekali. Terima kasih. Kamu Hati-hati ya Zal. Kamu mau minta hadiah perpisahan apa dariku Zal?”
Rizal tersenyum, “doa saja yang banyak mbak.”
Semenjak itu, aku tidak pernah lagi mendengar kabar darinya.
….
8 bulan kemudian
Langit masih mendung. Orang-orang mulai meninggalkan pemakaman. Tinggal aku sendiri yang masih merenungi kepergian bapak. Belum lagi kering air mataku, tiba-tiba dari arah timur, aku melihat orang yang sangat aku kenal.
“Rizal?”
“Iya mbak Wita. Maaf saya terlambat. Yang sabar ya mbak.. semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.”
“Aaamiin… terima kasih sudah datang.”
“Mmm.. anu mbak. Saya kesini untuk menunaikan janji saya kepada almarhum bapak yang mungkin sudah agak terlambat.”
“Apa itu Zal?”
“Besok malam saja ya mbak. Saya akan datang ke Gazebo belakang.”
Mendung pun berubah menjadi rintik hujan. Rizal berlalu meninggalkanku yang termangu dengan tanda tanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar